twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

10 alasan berhanti menonton Sinetron

Hai kalian semua, bapak-bapak, ibu-ibu, tantae-tante, om-om, kakek-kakek, nenek-nenek, pokoknya semuanya yang masih menjadi pononton setia sinetron atau bahkan addict dengan sinetron, sampai-sampai kalau sehari tidak menonton sinetron serasa "sakau" rasanya.
Waktunya kalian berhenti menonton sinetron, kenapa ??? atau bahasa gaulnya sekarang "why"???
Karena..... Mungkin kali ini saya tidak akan menyinggung tentang tekhnik pengambilan gambar yang cuma berkisar antara close-up, medium shoot, OTS (Over the Shoulder), long shoot, full shoot, pokoknya shoot-shoot standar yang sering dipake oleh pemula. Belum ditambah blooper dimana-mana. Mungkin biar cepet kelar, biar honor cepat cair kali ya ??? Tapi itu bukan menjadi masalah utama. Masalah utama disini adalah segi ceritanya. Nah, dari segi ceritanya ini saya akan memberi 10 alasan untuk berhenti merokok, ehh...eh.. salah maksudnya berhenti menonton sinetron. Silakan disimak.
  1. Ceritanya hanya berkisar tentang cinta sama duit. Si baik pasti menawarkan cinta yang tulus, terus si jahat pasti menjadi penghalang si baik untuk mendapatkan cinta sejatinya supaya si jahat bisa dapat harta.
  2. Si tokoh baik utama, pasti digambarkan orang yang polos, mau dijahatin gimana pun tetap aja tidak marah. Ni bikin penonton kesal biasanya, ujung-ujungnya biar episode ditambah.
  3. Si tokoh baik utama pasti menderita, terus penderitaan yang dialami biasanya luar biasa dan datangnya bertubi-tubi. Kalau udah menderita lagi ntar sama si penulis skenario dibuat lagi dia menjadi menderita supaya ceritanya muter-muter.
  4. Terlalu banyak kekerasan, lebih tepatnya KDRT, suami nampar isteri, atau lebih parah ibu tiri mukulin dan anaknya alias si pemeran utama. Terus alasan dipukulnya tidak masuk akal.
  5. Yang paling sering muncul juga adalah balas dendam. Ngajarin orang balas dendam, gara-gara pacar direbut aja bisa sampe nyewa pembunuh bayaran. PARAH plus nggak masuk akal
  6. Tiap episode kurang lengkap tanpa air mata, terus pas lagi nangis disertai dengan dubbing kata-kata mutiara.
  7. Kalau penonton pikir ceritanya udah mau tamat pasti ceritanya dibuat muter-muter lagi sampe si jahat menang lagi untuk sementara. Ini bikin yang nonton gemes sampe lupa masakan gosong di dapur.
  8. Yang gak masuk akal, polisi, pengacara, alias penegak hukum biasanya bekerja sama dengan penjahat dalam film. Bikin rusak citra penegak hukum negeri sendiri.
  9. Anehnya, si jahat dalam film spertinya lebih jahat dari teroris. Jahatnya tuh kayaknya bawaan dari lahir gitu. Terus yang jahat biasanya orang kaya, yang walaupun udah kaya tapi tetap nyari harta terus. Gambarin orang kaya pasti jahat.
  10. Yang paling terakhir, kira-kira abis nonton sinetron penonton dapat pengetahuan apa??? Jawabannya "nothing" alias zonk. Buang waktu doang. paling-paling yang keingat cuma siksaan-siksaan serta kekerasan yang ada dalam film.
Mungkin gak semua sinetron itu jelek, tapi sinetron yang bermutu itu cuma seberapa doank. Paling ingat "KELUARGA CEMARA" sama "KIAMAT SUDAH DEKAT". Sekarang sudah waktunya kita berteriak "ENOUGH" untuk acara tv yang tak bermutu, dan mulai berhenti menonton sinetron yang ceritanya hanya menjadi racun dalam pikiran. Kalau rating sinetron yang gk berkualitas dan muraha udah turun, pasti akan diganti dengan sinetron yang lebih bermutu. Just info di Facebook juga ada gerakan anti sinetron murahan, kalau mau lihat klik disini, tapi yang buat bukan saya lho. Buat yang suka nonton televisi, just be wise !!!! GB us !!!!!

Review Film: Red Cobex











Directed by Upi

Produced by Chand Parwes Servia

Pemeran

1. Tika Panggabean : Mama Ana (Ambon/Maluku)

2. Sarah Sechan : Bo. Bariah (Madura)

3. Cut Mini : Cik Memey (Cina/Tionghoa)

4. Indi Barends : Tante Lisa (Manado)

5. Aida Nurmala : Yu Halimah (Jatim)

6. Lukman Sardi : Yopie (Ambon/Maluku)

7. Revalina S. Temat : Astuti

8. Irfan Hakim : Ramli

9. Shanti : Ipah

Sinopsis

Di suatu kampung, ada satu gang atau kelompok yang menamakan diri mereka RED COBEX, yang terdiri dari Mama Ana, Bo. Bariah, Cik Memey, Tante Lisa, Yu Halimah dan Yopie. Gang selalu ini menjaga kampung mereka dari berbagai tindakan kriminal seperti Judi, penjualan VCD n DVD bajakan, miras dll.

Karena mencuri di toko emas milik mantan suami Mama Ana, Gang Red Cobex ditangkap oleh polisi. Beberapa hari kemudian Yopie dibebaskan dari penjara. Yopie dijemput oleh temannya bernama Ramli dan tinggal bersama temannya itu yang sudah menikah. Hal ini karena rumah milik Yopie dan Mama Ana telah disita oleh petugas. Suatu hari, tanpa sengaja Yopie bertemu dengan wanita idamannya yang bernama Astuti. Yopie kemudian bekerja di restoran tempat yang sama dengan Astuti bekerja itu karena restoran tersebut membutuhkan searang pelayan yang baru. Selang beberapa waktu kemudian, Yopie mengungkapkan perasaannya kepada Astuti dan mereka berdua akhirnya berpacaran. Ketika, Gang Rex Cobex keluar dari penjara mereka langsung melamar Astuti untuk menikah dengan Yopie dan lamaran itu diterima oleh keluarga Astuti.

Pesan film ini:

Film ini memberikan banyak pesan moral. Salah satu yang paling mencolok adalah “Jangan menilai seseorang itu hanya dari luar atau fisik saja (kulit hitam, rambut keriting dsb), karena fisik belum tentu dapat menentukan seberapa besar baik atau buruknya orang tersebut.


Tapi, film ini ada terdapat kekurangan yaitu bahasa daerah yang digunakan tidak ada teks atau artinya sehingga tidak bias dipahami oleh penonton maksud dari bahasa tersebut.

Tapi disamping itu film adalah film yang bagus, lucu, dan layak ditonton.


by Hendi Temar Finger

KUPAS FINGER 2010


Bulan Oktober dan November ini adalah bulan yang sangat sibuk dan padat, bukan hanya untuk para fungsionaris Finger sendiri tapi juga calon anggota Finger. Ditengah padatnya kuliah, tugas-tugas, serta ditambah dengan test mid semester, program perekrutan anggota baru Finger Kine Klub, KUPAS (KUmpul PAra Sineas) 2010 tetap dilaksanakan. Dengan Ketua KUPAS Benaya Finger, serta asisten Marcel (Pace) Finger, kegiatan KUPAS dimulai dengan pemberian materi, seperti, materi sutradara, kamera dan kameramen, serta editing. Yang dilaksanakan mulai tanggal 25 Oktober hingga 1 November, peserta lalu dibagi kedalam 2 kelompok produksi dengan fungsionaris yang sebagai wali mereka. Setelah program pemberian meteri, kegiatan KUPAS kemudian dilanjutkan dengan program pra produksi. Disinilah beda program KUPAS tahun ini dengan program KUPAS sebelumnya, jika program pra produksi di KUPAS FINGER sebelum-sebelumnya memakan waktu 1 sampai 2 bulan, tapi untuk KUPAS tahun ini, program pra produksinya kurang dari 2 minggu. Hal-hal pra produksi seperti pembuatan ide cerita, sinopsis, treatment, skenario, serta pembuatan story board dilakukan bersamaan hari dengan kegiatan pemberian materi. Meskipun begitu peserta masih diberi kesempatan untuk memperbaiki treatment maupun skenario mereka sebelum benar-benar dieksekusi pada saat produksi. Pra produksi diberi deadline sampai tanggal 4 November untuk benar-benar mematangkan materi film serta mempersiapkan property dan talent. Sebelum produksi peserta yang mengundurkan diri sebanyak 6 orang ( 3 orang perkelompok). Produksi awalnya direncanakan tanggal 5-6 November, disebabkan oleh makrab IE (Ilmu Ekonomi) pada tanggal 6 November nya, jadwal produksi sedikit diubah. Untuk kelompok 1, Unlimited Production, dengan pimpro Ages tetap menjalankan produksi sesuai jadwal. Tapi untuk kelompok 2, Quickly Production dengan pimpro Bayu, jadwal produksi mereka menjadi tanggal 5 dan 7 November, dikarenakan 5 orang anggota kelompok harus mengikuti makrab IE.
Pada saat produksi bagi kedua kelompok produksi sangat banyak kendala-kendala yang mereka hadapi mulai dari hujan, talent rewel, sampai dengan masalah perijinan tempat yang akhirnya membuat mereka berurusan dengan seorang bapak kost mata duitan. Tapi dengan tekad yang kuat serta dibantu oleh wali maupun senior Finger, seperti Banu, Eta, Gepeng, serat Yoga Finger. Kendala-kendala pada saat produksi pun berhasi mereka lewati. Capek, letih, lelah baik secara fisik, mental, maupun pikiran benar-benar dirasakan peserta KUPAS maupun para wali. Namun ini semua belum berakhir karena masih ada tahap pasca produksi yaitu editing, yang dilasanakan mulai tanggal 7-10. Kerja keras buat para editor ditiap kelompok. Meskipun dengan jadwal yang padat untuk KUPAS kali ini, terhitung dalam 2 minggu program pra produksi, produksi, maupun pasca produksi dapat diselesaiakan. Ini sudah sesuai dengan keinginan ketua FINGER Iver Ibram Konda, yang ingin anak-anak KUPAS kali ini diajarkan untuk bisa bekerja dibawah tekanan. Pelantikan baru akan dilaksakan pada tahun depan. Salut buat kekompakan yang telah ditunjukan oleh kedua kelompok.

Sejarah Singkat & Perkembangan Finger Hingga Saat Ini


Sejatinya seorang yang mencintai sejarah adalah orang yang loyal terhadap sesuatu yang diyakininya. Begitu juga dalam hal berorganisasi.

Dengan pergantian kepengurusan baru serta program rekrutmen anggota (KUPAS) maka segenap keluarga Finger sudah seharusnya tau apa saja pengorbanan yang telah dilakukan para senior untuk menjaga eksistensi Komunitas ini.

Berdiri secara Komunitas pada tahun 2001 dibawah bidang 3 (hiburan) Senat Mahasiswa UKSW. Dengan ketua Lola Rischa Pandiangan yang pada saat itu juga sebagai ketua bidang 3.

Pada akhir tahun 2002 para anggota bersepakat untuk mengadakan acara pemutaran Film, yang pada saat itu mencari lalu mendapatkan Sponsor dari PT. Djarum (Djarum Black) yang diwakili oleh bapak Handoyo. Maka dilangsungkanlah acara yang diberi nama Friday Night Movie yaitu pemutaran film box office berjudul "Brotherhood of Wolf". Menuai sukses, pada Pekan Ilmiah Mahasiswa tahun 2003, Finger mengadakan acara pemutaran film "Aku Ingin Menciummu Sekali Saja" karya Garin Nugroho, dibintangi oleh Lulu Tobing, keduanya datang sebagai tamu pada acara itu. Acara ini sukses besar dari kapasitas tempat (Balai Utama UKSW) 800 orang dipaksakan menjadi 1000 orang.

Berakhirnya periode kerja, Finger Kine Klub berpindah tangan ke Raetundra Bimoadi P. a.k.a Bimo Finger. Reformasi total di badan Senat Mahasiswa UKSW menyebabkan Finger kehilangan payung untuk berteduh sehingga terjadi lobi antara Finger Kine Klub dengan Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE). Alasan memilih FE (sekarang Fakultas Ekonomika dan Bisnis) adalah karena mayoritas anggota pada saat itu adalah anak FE dan FE dinilai paling bonafit dan aktif pada saat itu.

Tepat 6 Desember 2003 sebuah ceremony kecil di Banaran Café sebagai persiapan untuk masuk dalam Struktur FE dan juga sebagai hari jadi FINGER Kine Klub dalam FE UKSW. Namun baru sekitar September 2004 Finger Kine klub resmi (struktural FE) menjadi sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Finger Kine klub FE UKSW. Layaknya sebuah UKM Finger Kine klub mengikuti Rapat Kerja (Raker) SEMA FE, dan membuat rencana program kerja. Program kerja / kegiatan yang merupakan agenda rutin Finger yaitu Kupas, Seminar/Lomba Film, Produksi Film Besar setiap akhir periode kerja.

Regenerasi terus terjadi dalam tubuh organisasi dan komunitas Finger Kine Klub. Mulai dari Rudra Finger kemudian diwariskan ke Rahma Finger . Lalu pindah tangan ke Felix Finger, lalu Tika Finger dilanjutkan dengan Banu Finger, setelah itu Finger dipimpim oleh ketua saat ini Iver Finger. Setiap periode pasti mendapatkan tantangan yang tidak ringan walaupun begitu Finger tetap bisa berkarya. Semua itu karena Loyalitas mereka terhadap Finger.
Secara urutan periode maka urut-urutan ketua Finger :
  1. Lola Finger (2001/2002, 2002/2003)
  2. Bimo Finger (2003/2004,2004/2005)
  3. Rudra Finger (2005/2006)
  4. Rahma Finger (2006/2007)
  5. Felix Finger (2007/2008)
  6. Tika Finger (2008/2009)
  7. Banu Finger (2009/2010)
  8. Iver Finger (2010/2011)
  9. Benaya Finger (2011/2012)
Kemudian kegiatan yang telah dilangsungkan Finger sampai saat ini.

  • Pemutaran Film "FRIDAY NIGHT MOVIE"
  • Pemutaran Film "Aku Ingin Menciummu Sekali Saja"
  • Kegiaitan Bedah Film '08 dan '09
  • Festival Iklan Budaya (FIB)
  • Noancep (Nonton Layar Tancep)
  • Kupas (Kumpulan Para Sineas),pelatihan sinemtografi bagi calon anggota baru.
Karya-Karya Finger
  • Kopi 1/2 gelas
  • Penembakan Ke Dua Belas
  • Cintaku Pacar Sahabatku
  • Cintaku Disini
  • Sepinya Pijakan Kaki
  • Terancam (Juara 2 Indie Movie Competition FTI dan The Best Art Cinematography)
  • Dies Natalis FE 2009
Perjalanan yang panjang dan berliku telah ditempuh Finger Kine Klub sampai saat ini dengan mengandalkan kekeluargaan dan loyalitas dari para anggotanya.
Semua itu adalah hal yang harus dihargai. Karena penghargaan pada sebuah proseslah yang kiranya dapat membuat bertahannya Finger Kine Klub. Tetap Semangat dan Teruslah berkarya Finger !!!!!!


Artikel Terkait

Review Film: The Blind Side

Judul Film : The Blind Side

Sutradara : John Lee Hancock

Pemain : Sandra Bullock (Leigh Anne Tuohy), Tim McGraw (Sean Tuohy), Quinton Aaron (Michael Oher), Jae Head (S.J. Tuohy), Lily Collins (Collins Tuohy), Ray McKinnon (Coach Burt Cotton), Kathy Bates (Miss Sue)

Durasi : 120 menit



Film ini diadaptasi dari buku The Blind Side: Evolution of a Game, yang ditulis oleh Michael Lewis. Film ini bercerita tentang Michael Oher (Quinton Aaron), seorang remaja berumur hampir 18 tahun yang berasal dari keluarga broken home, ibunya seorang pecandu dan ayahnya pergi entah kemana. Badan Michael Oher sangat besar dibandingkan orang kebanyakan oleh sebab itu dia dipanggil Big Mike. Sampai suatu malam yang dingin Big Mike bertemu dengan keluarga Leigh Anne Tuohy (Sandra Bullock), yang mengajaknya untuk menginap dirumahnya untuk menghangatkan diri. Leigh Anne sangat berjiwa sosial bahkan dia menjadi Legal Guardian (semacam orang tua asuh) buat Michael, memberikan kamar, membelikan baju. Tidak hanya itu saat Michael minta dibelikan mobil Leigh Anne pun membelikan mobil. Dan Leigh Anne juga menyekolahkan Michael. Di sekolahnya Michael aktif dalam olah raga American Football, dan menunjukkan kebolehannya dalam bermain rugby. Masalah terjadi saat Michael ditawari berbagai macam beasiswa oleh universitas-universitas ternama karena prestasinya di rugby, tapi semua beasiswa itu menyertakan syarat GPA Michael minimal sebesar 2,5. Sedangkan saat itu GPA Michael hanya sebesar 1,76. Maka Leigh Anne seorang guru private, Miss Sue (Kathy Bates) untuknya. Michael berhasil mencapai GPA 2,52 dan memilih Ole Miss (University of Missisipi).

Kelebihan :

- film ini termasuk film yang dapat dinikmati oleh semua kalangan.

- film bertema keluarga ini mampu menggugah hati penonton sehingga mampu menyadarkan kita bahwa masih banyak orang-orang seperti Michael Oher di luar sana. Dan pesan kemanusiaan dapat disampaikan melalui film ini.

- dalam film ini menggunakan beberapa flashback agar penonton dapat mengerti jalannya cerita, terlebih peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Michael Oher.

Kekurangan:

- film ini menceritakan tentang Michael Oher, namun sepertinya peran Leigh Anne mengalahkan peran dari Michael Oher sehingga film ini terkesan menceritakan kisah Leigh Anne. Meskipun begitu lewat peran sebagai Leigh Anne, Sandra Bullock berhasil meraih Oscar lewat kategori best actress.

Koment bila ada tambahan atau kekurangan dari review di atas.

Review Film : Alangkah Lucunya (Negeri Ini)


Judul Film : Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Sutradara : Deddy Mizwar
Pemain : Reza Rahadian, Deddy Mizwar, Slamet Raharjo, Jaja Miharja, Ratu Tika Bravani, Asrul Dahlan, Tio Pakusadewo
Durasi : 115 Menit



Bercerita tentang Muluk (Reza Rahardian) yang telah 2 tahun lulus sebagai Sarjana Management tapi belum juga dapet pekerjaan. Sampai akhirnya Muluk bertemu dengan Komet, seorang anak yang berprofesi sebagai pencopet, ya bisa dikatakan profesional karena dalam operasinya dia ga sendirian tapi bersama beberapa temannya. Akhirnya, Muluk pun tertarik untuk memberikan pendidikan bagi para pencopet cilik yang berjumlah kira-kira hampir 20 orang itu dengan caranya sendiri.

Setelah merasa pekerjaannya sebagai Pengembang Sumber Daya Manusia, yaitu copet dirasa membutuhkan bantuan, akhirnya Muluk meminta Samsul (Asrul Dahlan) dan Pipit (Ratu Bravani) sebagai partner kerjanya. Samsul yang notabene-nya seorang Sarjana Pendidikan menduduki jabatan sebagai guru membaca yang Pancasilais dan Pipit, sang anak Pak Haji sebagai guru ngaji para pencopet tersebut.

Ga mudah untuk ngajarin copet, itu pula yang dirasakan Muluk, Samsul dan Pipit, tapi mereka tidak pantang menyerah untuk membuat para pencopet cilik itu menjadi lebih brpendidikan. Walau mereka bertiga mengira ini profesi yang baik, tapi tidak menurut kedua orang tua Muluk dan Pipit yang akhirnya menyadari pekerjaan anak mereka yang menghasilkan uang dari hasil yang tidak halal.

Kelebihan :

- Sebagai sutradara Deddy Mizwar mampu menghadirkan tontonan yang sangat mengibur dan memiliki pesan moral yang baik bagi penonton.

- Tokoh-tokoh pencopet cilik yang sebagian besar merupakan wajah baru dalam dunia perfilman memiliki bakat akting dan mampu menjiwai sebagai pencopet.

- Film ini dapat menceritakan keadaan yang sesungguhnya terjadi di negeri kita ini.

- Film ini dapat menyentuh hati para penonton dan juga menjadi motivasi serta pelajaran yang baik dalam menghadapi kehidupan yang semakin susah.

- Teknik pengambilan gambar dalam film ini sangat komlit hampir semua teknik pengambilan gambar dilakukan dalam film ini, termasuk beberapa efek gambar yang diberikan dalam film ini (pada saat dompet dilempar)

Kekurangan :

- Pada akhir cerita sepertinya tidak ada penyelesaian masalah yang terjadi di dalam film ini. Karena, tidak semua pencopet cilik menjadi penjual asongan dan Muluk juga belum mendapat pekerjaan. Tapi ini memang sudah sesuai dengan judul “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)".

- Pada awal cerita kurang dapat menjelaskan jalannya cerita yang akan disampaikan dalam film ini.

Secara keseluruhan film ini sudah bagus, meskipun ada beberapa kekurangan dalam pengambilan gambarnya namun dapat ditutupi dengan penyajian cerita yang baik.


FINGER Touring to Jogja


4 September 2010 kemarin, Finger Kine Klub melakukan touring bersama ke jogja dan sekitarnya. Walaupun beberapa senior maupun fungsionaris ada yang tak bisa ikut tapi kegiatan touring tetap meriah. Pukul 06.00 wib anak-anak Finger berkumpul di depan gedung LK (Lembaga Kemahasiswaan). Sambil menunggu teman-teman yang belum datang, para senior Finger seperti Mas Rudra Finger, Mas Eta Finger, dan Mas Yoga Finger membuat anak-anak Finger yang masih aktif tertawa terpingkal-pingkal dengan lelucon dan kegilaan mereka. Pada pukul 08.oo wib, konvoi menuju Jogja pun dimulai dengan dipimpin oleh Mas Rudra Finger. Meski sempat mengalami bebrapa kendala seperti kecelakaan ringan sampai rantai putus tapi akhirnya rombongan tiba ditujuan pertama yakni Candi Prambanan dengan selamat. Setelah berfoto-foto ria Mas Rudra Finger pamit karena ada panggilan mendadak dari kantornya, setelah itu, rombongan melapas rasa lapar dan dahaga di sebuah warung makan padang tak jauh dari Candi Prambanan. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Outlet Biru (OB) untuk memuaskan hasrat belanja beberapa anak-anak Finger seperti Febry Finger, Totok Finger, dan Hendy Finger. Setelah kurang lebih sejam perjalanan dilanjutkan ke pantai Derini, beberapa anak Finger melepas lelah dengan nyebur ke laut, kali ini yang dikerjain adalah Reyn Finger yang baju dan sendalnya dikubur dalam pasir. Untungnya bajunya masih bisa ketemu. Setelah mengahabiskan beberapa saat untuk mandi dan berganti pakaian, perjalanan dilanjutkan lagi, kali ini balik lagi ke Jogja, Alun-alun. Beberapa anak Finger mencoba memecahkan mitos tapi tetap saja tidak bisa. Setelah puas dan lelah, waktunya pulang ke Salatiga. Walau dengan keadaan lelah dan ngantuk semua rombongan tiba di Salatiga dengan selamat. Sebelum pulang ke rumah dan kost masing-masing rombongan bekumpul dulu di Lapangan Pancasila. Touring yang berlangsung 18 jam itu pun berakhir dengan sukses meskipun rasa lelah sudah melanda. Ikatan Keluarga adalah perekat yang paling kuat dalam sebuah hubungan, dan ikatan keluarga itulah yang merekatkan hubungan setiap anak Finger. Teruslah Berkarya Finger Kine Klub !!!!!!!

lihat foto touring Finger di sini

Pelantikan Ketua & Fungsionaris FINGER Periode Kerja 2010/2011


Tanggal 23 Agustus 2010 kemarin Finger Kine Klub melakukan Pelantikan Fungsionaris FINGER Periode Kerja 2010/2011, bertempat di Banyu Bening. Dalam acara sederhana tersebut, Iver Ibram Finger dilantik menjadi Ketua baru Finger Kine Klub menggantikan ketua sebelumnya Banu Finger, demikian juga para fungsionaris baru yang menggantikan fungionaris lama yang telah habis periode kerjanya. Kekeluargaan yang menjadi motto dan ciri khas Finger Kine Klub begitu terlihat dalam acara pelantikan tersebut, cerita ringan dan canda tawa begitu menghiasi acara yang juga dihadiri beberapa senior Finger Kine Klub seperti Mas Eta Finger dan Mas Gepeng Finger yang menyempatkan datang ke acara pelantikan, mereka juga sempat memberikan amanah kepada seluruh fungsionaris agar total dan profesional dalam menjalankan tugas disetiap Divisi yang telah dipercayakan. Setelah itu acara dilanjutkan dengan makan-makan, dan pada akhir acara ada sesi foto-foto bersama fungsionaris baru dan fungsionaris lama, pada sesi foto-foto tersebut Ketua baru Finger, Iver, mendapat kejutan dengan dicemplungin ke kolam ikan. Acara ditutup dengan konvoi yang berakhir di Lapangan Pancasila.
Kebanggaan menjadi anggota Finger harus tertanam dihati setiap anak Finger, karena Finger lebih dari sekedar organisasi maupun komunitas, Finger adalah Keluarga. Maju terus Finger !!!

New Logo of FINGER KINE KLUB Salatiga




Seiring bergantinya nama Fakultas Ekonomi (FE) Satya Wacana,menjadi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Satya Wacana pada tahun 2010 ini, maka FINGER KINE KLUB yang berada di bawah naungan Fakultas Ekonomika dan Bisnis pun melakukan pembaharuan pada logo organisasi, yakni pada bagian tulisan "economic faculty" dalam logo FINGER KINE KLUB, menjadi "faculty of economic and busines". Perubahan pada logo ini juga disertai kepengurusan baru di badan organisasi FINGER KINE KLUB, yang pada periode lalu diketuai oleh Banuar Yudhaswara sekarang beralih ke Iver Ibram Konda. Semoga dengan perubahan logo dan pergantian kepengurusan, semangat baru muncul disetiap anak FINGER untuk memberikan yang terbaik bagi FINGER KINE KLUB.
GBU !!!

Terancam


Terancam hanyalah sebuah kata yang berarti sesuatu yang sedang diancam. Namun kata tersebut berarti lebih bagi kru produksi film “Terancam” yang diproduseri oleh Banuar Yudhaswara dan disutradarai oleh Eka Junis Setywan bersama dua puluh tiga orang kru lainnya. Karena “Terancam” merupakan salah satu film yang diproduksi khusus untuk diikutkan dalam acara IT Indie Movie Competition (program kerja SEMA FTI UKSW) yang telah berlangsung awal Mei lalu.

Menurut Iver Ibram Konda, kameramen dalam film Terancam, “Selama ini film – film produksi Finger Kine Klub hanya dinikmati sendiri tanpa pernah ada orang yang memang ahli di bidang sinematografi menilai hasil karya kita. Dan dalam acara inilah kita mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan sejauh mana kualitas dan kekurangan kita dalam film. Menang atau kalah tidak jadi masalah, yang penting pengalaman baru kita dapatkan”.



Acara IT Indie Movie Competition yang berlangsung pada tanggal 1 Mei 2010 lalu dan bertempat di Balai Urung UKSW menampilkan sepuluh film bertema “100% ala Indonesia” yang diputar dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Sesuai dengan temanya film yang ditampilkan oleh peserta yang berasal dari kota Jogja, Solo, dan Salatiga memiliki pesan – pesan khusus dalam melestarikan budaya. Salah satunya film tentang batik yang diusung oleh komunitas film ED FM – FBS, film tentang mau makan apa? oleh komnitas film Pop Corn – FTI dan film tentang tempe yang diusung komunitas Film Finger Kine Klub - FEB .

Pujian dan kritikan dari juri selalu mengalir pada tiap – tiap film yang ditampilkan. Hingga tiba pemutaran film Terancam selesai, kritikan pun langsung terlontar dari juri. Menurut juri, eksekusi cerita film Terancam kurang, cerita agak susah untuk ditangkap. Namun juri sangat senang dengan teknik pengambilan gambarnya, kualitas lighting cukup bagus, ditambah dengan angle – angle jamera yang lebih variatif serta cukup berani.

Akhirnya sekitar pukul 16.00 WIB diumumkan pemenang dari Festival IT Indie Movie Competition. Komunitas film asal Jogja dinobatkan sebagai juara pertama IT Indie Movie Competition, dan disusul oleh Finger Kine Klub sebagai juara dua, dan peserta dari SMA Negeri 1 Salatiga menjadi juara tiga IT Indie Movie Competition.
Sesuatu yang tidak pernah diduga oleh 25 orang kru film “Terancam”sebelumnya, Banu, Iver, marsel, Yehezkiel, Reyn yang saat itu mengikuti acara di BU, merasa sangat senang dan bangga ketika mendengar nama Finger Kine Klub muncul sebagai pemenang juara kedua. Begitu pula dengan Eka Junis S. yang tidak mengikuti acara tersebut dan hanya mendapat kabar lewat sms dari kru lain yang mengikuti acaranya hingga akhir merasa lega, “ga sia – sia apa yang kita kerjakan selama ini”, katanya.



Dan tidak tanggung – tanggung, selain meraih juara dua, Finger Kine Klub juga mendapat penghargaan tambahan yaitu “Penghargaan Best Cinematography” oleh juri. Yang menjadi kebanggaan lain, ternyata mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis tidak hanya mahir dalam bidang ekonomi saja tetapi juga bidang lain seperti sinematografi.



Watching Terancam :


by conda_jr

NOANCEP - Menonton Cerdas

Dewasa ini, isu mengenai pencurian kebudayaan oleh negara lain mulai merebak. Mulai dari surat kabar, berita televisi, dan situs – situs portal memberitakannya. Kebudayaan Batik, Tari Pendet, dan Wayang Kulit adalah beberapa dari kebudayaan Indonesia yang terkena imbasnya.

Oleh karena itu, kami yang tergabung dalam sebuah komunitas film yaitu Finger Kine Klub yang berada di bawah Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana akan mengadakan kegiatan menonton dan diskusi film yang bertemakan budaya Indonesia seperti yang telah terangkum dalam program kerja Finger Kine Klub periode 2009/2010.

Kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa–mahasiswi Universitas Kristen Satya Wacana dapat mengetahui dan memahami pesan yang disampaikan dari sebuah film yang tidak diperoleh dalam dunia akademik atau perkuliahan. Selain itu harapan dari kegiatan menonton dan diskusi film ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang seluk beluk dari sebuah film.

Dari uraian diatas, maka diharapkan kegiatan yang akan dilaksanakan mendapat dukungan sepenuhnya dari seluruh pihak-pihak yang terkait agar kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya.

NAMA KEGIATAN
”NOANCEP”
(NONTON LAYAR TANCEP)

Gambaran Kegiatan
Acara dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2010. Acara ini terdiri dari dua sesi dimana sesi pertama Noancep ini berbentuk pemutaran film yang bertemakan budaya Indonesia. Lalu pada sesi akhir pemutaran akan diulas dan dikupas oleh pembicara mengenai isi pesan sosial budaya yang diangkat dari film tersebut. Disini diharapkan akan ada interaksi tanya jawab antara peserta dan pembicara. Acara ini juga memberikan nuansa budaya layar tancep yang disekitar lokasi terdapat pedagang kaki lima dimana pedagang kaki lima tersebut merupakan mahasiswa FEB.

Berikut pelaksanaan kegiatan Nonton Layar Tancep :
Hari / tanggal : Jumat, 7 Mei 2010
Waktu : 17.35 – 21.35
Tempat Kegiatan : Parkiran kampus sebelah gedung E dan C

(Lia Finger)

Sebuah Persembahan Untuk Budaya Indonesia : Festival Iklan Budaya

Berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya yang selalu mengusung kegiatan workshop filmnya, kali ini KBM Finger Kine Klub mengadakan kegiatan yang berbeda yang dikemas melalui Festival Iklan Budaya dengan tema “Indonesia Mini”. Kegiatan ini mengajak semua mahasiswa FEB UKSW untuk mencintai dan melestarikan budaya Indonesia melalui pembuatan iklan yang berunsur film. Festival Iklan Budaya sendiri terdiri dari dua bagian yaitu kegiatan lomba pembuatan iklan pada tanggal 12 dan 13 Maret 2010 dan Bedah Iklan pada tanggal 26 Maret 2010 di Recital Hall FSP.

Dari awal pendaftaran hingga akhir pendaftaran lomba hanya ada 15 peserta mahasiswa yang tertarik mengikuti lomba yang kemudian oleh panitia dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama, REYSA Production (dengan anggota Arif Eka S., Ade Laksana N,. Reyn M, Yoel A., Stevanny), kelompok kedua De Ones Production (dengan anggota Fanny L., Ivan S., Andre, Sally R. M.), dan kelompok ketiga Loro loro Production (dengan anggota Nico, Tommy, Ayriska, Dewi, Edwin).

Dalam kegiatan lomba pembuatan iklan ini, peserta hanya dituntut untuk menyiapkan sebuah konsep dan mampu mengoperasikan peralatan film. Sebab dengan tujuan menstandardkan peralatan film pada masing – masing kelompok, semua peralatan ketika produksi iklan akan disiapkan oleh panitia.

Dari hasil pembuatan iklan itulah yang nantinya diangkat untuk dibedah dan dinilai oleh juri pada kegiatan Bedah Iklan. Penilaian dilakukan oleh tiga orang juri yang terdiri dari perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang diwakili oleh Bapak Jawardi, kemudian Bapak Sampoerno seorang dosen dari FISKOM, dan Rudra yang merupakan salah satu mantan Ketua Finger Kine Klub.
Komentar pedas selalu datang dari para juri terhadap semua kelompok baik kelompok REYSA yang menampilkan iklan budayanya melalui karawitan, kelompok De Ones melalui Burger vs. Arem – arem nya, maupun kelompok Loro – loro melalui Batik nya. Mulai dari segi konsep, teknis, hingga filosofi dan sisi komunikasi iklan semuanya dikupas saat sesi penjurian dan diskusi. Walaupun begitu para juri juga memberikan saran yang positif bagi ketiga kelompok tersebut.

Hadir juga sebagai peserta bedah iklan Bapak Hermawan yang merupakan salah satu dosen TI-DKV. Pada setiap sesi diskusi ia selalu menyempatkan diri utuk memberikan komentar.”Yang membuat saya menggelitik dan yang saya ingin tanyakan dari tadi. Apakah iklan tersebut di buat on the spot atau dengan konsep yang matang sesuai dengan aturannya mulai dari pembuatan tema, sinopsis, treatment, story board, shooting script, breakdownscript, hingga survei tempat dan penataan atau setting tempat?” pertanyaan terakhir Bapak Hermawan yang menutup sesi diskusi.
Menanggapi pertanyaan dari Bapak Hermawan, Eka Junis S., selaku panitia sekaligus koordinator divisi produksi Finger Kine Klub menjelaskan, “Menanggapi pertanyaan Bapak Hermawan, sebagian besar peserta yang mengikuti lomba pembuatan iklan tidak mempunyai background film sehingga mereka tidak mengetahui secara detail mulai dari bagaimana pembuatan konsep, script – script, hingga keahlian pemakaian peralatan, selain itu juga panitia dan anggota Finger Kine Klub yang berada ketika pembuatan iklan dilarang membantu atau memberitahu atau memberi saran sebab ditakutkan akan mempengaruhi kualitas hasil produksi”.

Manfaat yang secara nyata diperoleh oleh peserta bedah iklan adalah ketika sesi diskusi. Selain kita diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat kita mengenai iklan yang dibedah, kita juga memperoleh banyak pengetahuan mulai dari pembuatan konsep, teknis pembuatan iklan, apa itu iklan dan bagaimana membuat iklan yang baik dan menjual, hingga dari sisi budaya Indonesia yang diangkat.

Acara ditutup dengan penyerahan piagam dan hadiah uang tunai kepada kelompok REYSA Production yang telah berhasil menjadi pemenang pertama.(Lia-red).

Galeri Foto Technical Meeting Kegiatan FIB

Persiapan panitia FIB sebelum acara TM di mulai,
selalu kompak dan tidak pernah putus asa, suatu ungkapan yang selalu dilontarkan sie acara "Bejo Finger" untuk membangun semangat panitia,,,

























Evaluasi panitia,,,










Ketua Panitia FIB
 

Search This Blog

End Wellcome

Selamat Datang di Situs Latihan Finger Kine Klub

Translate

Total Tayangan Halaman