twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Nominasi FFI 2009

Nominasi film terbaik :
Indentitas
Jamila dan Sang Presiden
Mereka Bilang Saya Monyet
Perempuan Berkalung Sorban
Ruma Maida

Nominasi Pemeran Wanita Terbaik :
Atiqah Hasiholan - Ruma Maida
Aty Kanser - Emak Ingin Naik Haji
Leony - Identitas
Revalina S Temat - Perempuan Berkalung Sorban
Titi Sjuman - Mereka Bilang Saya Monyet

Nominasi Pemeran Pendukung Wanita Terbaik :
Ayu Pratiwi - Emak Ingin Naik Haji
Henidar Amroe - Mereka Bilang Saya Monyet
Niniek L Karim - KCB 2
Widyawati - Perempuan Berkalung Sorban

Nominasi Pemain Pria Terbaik :
Tio Pakusadewo - Identitas
Emir Mahiri - Garuda di Dadaku
Reza Rahardian - Emak Ingin Naik Haji
Vino G Bastian - Serigala Terakhir
Yama Carlos - Ruma Maida

Nominasi Peran Pembantu Pria Terbaik :

Deddy Mizwar - KCB 2
Frans Tumbuan - Ruma Maida
Mamiek Prakoso - Garuda di Dadaku
Reza Rahardian - King
Verdy Sulaiman - Ruma Maida

Nominasi Penyutradaraan Terbaik :
Ari Kusumadewa - Identitas
Djenar Maesa Ayu - Mereka Bilang Saya Monyet
Hanung Bramantyo - Perempuan Berkalung Sorban
Ratna Sarumpaet - Jamila dan Sang Presiden
Teddy Soeriatmadja - Ruma Maida

Penata Musik Terbaik :

Aksan Syuman dan Titi Syuman - Garuda di Dadaku
Djaduk Ferianto - Jagad Kali Code
Aksan Syuman dan Titi Syuman - King
Bobi Suryadi - Ruma Maida
Arge Swara - Merah Putih

Penata Suara Terbaik :

Edo Sitanggang - Identitas
Iwan Akbar dan Edo Sitanggang - Emak Ingin Naik Haji
Satrio B dan Jajang Muslim - Jamila dan Sang Presiden
Hikmawan Santoso - Ruma Maida
Trisno dan H Santoso - Serigala Terakhir

Rekrutmen Panitia

Dibutuhkan Satgas acara NOANCEP (Nonton Layar Tancep)
Acara bln Mei 2010,
Bgi tmen2 FE UKSW yg berminat bs dftr
d lorong PP jam 9-2 (tgl23&24)
w2ncr hr Rbu - Kmis.
CP : 08985867211

Perekrutan Anggota Baru


Kelompok Bakat Minat Finger Kine Klub (komunitas film independen) akan mengadakan perekrutan anggota baru periode 2009 – 2010.
Bagi kalian yang berminat bisa menghubungi :

e-mail : finger_kineklub@yahoo.com
HP : 0898 586 72 11 (Lia – Koord. Litbangmas)


Oiya, pendaftaran terbuka bagi civitas akademika, jadi ga terbatas buat anak FE saja.
Ayo buruan daftar, kita tunggu ya..... ^_^
Pendaftaran secara langsung akan di buka di lorong PP Notohamidjojo mulai tanggal 7 September 2009 mulai jam 10 pagi.

Keterangan lebih lanjut mengenai apa itu Finger Kine Klub dan segala kegiatan atau aktivitasnya dapat dilihat di
http://fingerkinesalatiga.blogspot.com/

Awal Perjalanan Finger Kine Klub

Penghargaan pada sebuah proses kadang terlupakan begitu saja, perjalanan yang mengalir begitu saja baik dalam kesuksesan maupun kedukaan hanya menjadi cerita atau obrolan warung kopi saja. Kiranya dengan tidak terbang tinggi akibat sebuah kesuksesan dan juga tidak lari dari kenyataan akibat sebuah kegagalan. Sebuah kata yaitu “ Proses” dapat lebih kita maknai dalam perjalanan kita, sehingga apa yang belum ataupun sudah kita raih dapat lebih bermakna.

Sekitar akhir tahun 2002 sekumpulan anak muda bersepakat untuk membuat kegiatan / acara. Ketika masuk dalam tahap pencarian sponsor mereka bertemu dengan pihak sponsor (PT. Djarum) yang diwakili oleh Bp. Handoyo. Lalu terjadilah perbincangan tentang acara yang pada saat itu direncanakan akan dilangsungkan di kampus UKSW. Karena adanya kecocokan dengan pihak sponsor yang kebetulan juga pecinta film maka terjadilah sebuah acara perdana yang diberi nama Friday Night Movie yaitu pemutaran film box office dengan judul “Brootherhood of wolf”.

Menuai kesuksesan diacara pertama membuahkan semangat untuk membentuk sebuah komunitas yang dijadikan sebagai ajang kumpul-kumpul para pecinta film. Akhirnya pada tahun 2003 terbentuklah sebuah Kine klub UKSW yang digawangi oleh Lola R.P bersama kawan-kawan. Berjalannya waktu terjadi banyak perubahan ditubuh Kine klub UKSW, namun karena keinginan yang kuat untuk terus menjalankan sebuah komunitas film, maka Kine klub UKSW tetap berjalan. Kunjungan-kunjungan ke kampus-kampus lain yang notabenya sebagai sarang Kine klub berdiri, sangat bermanfaat sebagai studi banding dan memperluas jaringan sesama komunitas pecinta film.

Menjelang pertengahan tahun 2003 Kine klub UKSW melebur para personelnya dan berganti nama menjadi Finger Kine klub UKSW. Kegiatan berikutnya yaitu pemutaran film “Aku ingin menciummu sekali saja” karya Garin Nugroho yang diputar pada acara Pekan Ilmiah Mahasiswa, menuai kesuksesan yang lebih besar lagi, kapasistas BU UKSW yang hanya 800 orang harus dipaksakan menjadi 1000 orang. Sungguh kesuksessan yang besar bagi Finger Kine klub.

Berakhirnya periode mengakibatkan harus mengalami regenerasi kepengurusan sekitar tahun 2004 awal, kepengurusan Finger Kine klub berpindah tangan kepada Raetundra Bimoadi P. Perubahan yang terjadi dilingkungan Lembaga Kemahasiswaan UKSW sempat mengakibatkan Finger Kine klub tidak mempunyai payung untuk berteduh. Akhirnya terjadilah lobi-lobi antara Finger Kine klub dan Senat Mahasiswa FE UKSW agar bisa saling mendukung dalam menjalankan kegiatannya.

Tepatnya 6 Desember 2003 sebuah ceremony kecil di Banaran Café sebagai persiapan untuk masuk dalam Struktur FE dan juga sebagai hari jadi FINGER Kine Klub dalam FE UKSW. Sekitar September 2004 Finger Kine klub resmi (struktural FE) menjadi sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Finger Kine klub FE UKSW. Layaknya sebuah UKM Finger Kine klub mengikuti Rapat Kerja (Raker) SEMA FE, dan membuat rencana program kerja. Program kerja / kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu “Kupas Finger” (Video Music Josh Groban), “Workshop Belakang Layar”, “Produksi Film (Kopi ½ Gelas)”.

Hingga saat ini Finger Kine klub yang tetap eksis kembali beregenerasi dan dipimpin oleh Rudra untuk menjalankan kembali kegiatan Finger Kine klub selama satu periode, kemudian Rahma memegang kendali organisasi untuk periode selanjutnya, seselesainya Rahma digantikan oleh Felix sebagai ketua Finger periode selanjutnya. Untuk selebihnya tolong di update terus, dengan adanya Blog, Facebook, kiranya dapat bermanfaat sebagai sarana komunikasi&publikasi yang baik. Karena penghargaan pada sebuah proseslah yang kiranya dapat membuat bertahannya Finger Kine klub.

Visi dan Misi Finger Kine klub
Visi : Membentuk sebuah wadah yang dapat menampung para pecinta film dengan kegiatannya.
Misi : Memproduksi karya dalam bidang Sinematografi.





- Bimo Finger -

Perfilman di Indonesia

Perfilman di Indonesia kini semakin maju dan kreatif, beberapa tahun terakhir ini bioskop –bioskop di Indonesia penuh akan orang-orang yang ingin menonton karya anak bangsa ini, semua film yang di sajikan benar-benar menarik dan berkualitas, karena di dalamnya terkandung pesan moral, sosial ,agama,semangat yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat , dan tentu di dalamnya mengandung unsur hiburan. Seperti film yang baru saja dirilis di bioskop yaitu Garuda di Dadaku, dan King.
Kedua film tersebut sangat menginspirasi generasi muda untuk memiliki semangat juang yang tinggi, serta memiliki jiwa kepemimpinan. Di film King misalnya menceritakan tentang seorang anak yang ingin menjadi pebulutangkis seperti tokoh idolanya yaitu Liem Swie King, dengan latihan dan ketekunan yang ulet dan tidak mudah menyerah dia bisa menjadi pebulutangkis yang handal. Begitu pula dengan film Garuda di Dadaku, dimana ada sekumpulan anak yang berlatih sepak bola, dan akhirnya bertanding demi mengharumkan nama Indonesia.
Ini menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia mampu menghasilkan film yang baik dan bermutu. Tetapi di samping itu masih banyak film yang mendapat kontroversi, baik dari segi kualitas maupun isi film tersebut. Dan banyak pula film yang masih menampilkan adegan pornografi, Kekerasan, dsb, film yang dapat merusak moral bangsa kita, karena isi dan judul film yang kurang sesuai maupun judul film yang terlalu vulgar. Sehingga film tersebut kurang layak untuk di konsumsi kita sebagai generasi muda.
Dan kita sebagai generasi muda penerus bangsa sangat berharap film Indonesia ke depannya lebih baik dan bermutu lagi, sehingga dapat memberikan dorongan dan semangat positif bagi kita semua. Karena film adalah pesan/amanat yang ingin disampaikan kepada para penontonnya sehingga harus berpengaruh positif bukan negatif.
Dengan terus menggali ide-ide kreatif dan positif maka akan menghasilkan film yang berkualitas, layak untuk ditonton serta berpengaruh bagi negeri ini. Hidup perfilman Indonesia!!!!!!

By: Lucky

Kepemimpinan dalam tubuh Finger Kine Klub


17 Agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita

Ya, hari ini adalah hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mari kita sorakkan, "Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !"

Kali ini, menyambut hari kemerdekaan, kami akan mengupas profil kepemimpinan dalam tubuh Finger Kine Klub dengan nara sumber Ketua Finger Kine Klub periode 2008/2009.

Wanita kelahiran 17 April 1988 ini bernama lengkap Retno Mustikaningtyas yang biasa kami panggil dengan sebutan Mbak Tika. Mbak Tika awalnya mengenal organisasi Finger Kine Klub melalui acara EFD (Economic Family Day) 2006. Dan tanpa berpikir panjang dia langsung tertarik mendaftar sebagai anggota Finger Kine Klub, bisa dibilang seperti cinta pada pandangan pertama. Dan akhirnya diterima sebagai anggota Finger Kine Klub dan sebagai anggota dari angkatan 2006 yang dapat bertahan.

Hingga di akhir Juli 2008, ia dipilih oleh Felix, ketua Finger Kine Klub periode 2007/2008 sebagai ketua Finger Kine Klub periode 2008/2009 dan melanjutkan tugas - tugas sesuai dengan visi dan misi Finger Kine Klub. "Rasanya campur aduk, tapi bangga karena aku dianggap mampu oleh para ketua sebelumnya untuk mengelola Finger Kine Klub selama satu periode and I'll do my best for it", kata Mbak Tika dengan penuh semangat.

Dalam satu periode kepemimpinannya banyak hambatan dan rintangan. Kedudukan nya selain sebagai Ketua Finger Kine Klub dan sebagai mahasiswa FE UKSW jurusan akuntansi, ia juga sebagai Asisten Dosen. Peran nya ini memaksanya menyeimbangkan antara kegiatan kuliah, kegiatan film, dan kegiatan asisten. Namun hal ini tidak membuatnya menyerah begitu saja, seperti kata - katanya dari awal, I'll do my best. Yang akhirnya membuatnya berhasil dari 3 peran sekaligus dalam satu waktu.

Periode 2008/2009 berakhir akhir Juli ini yang ditutup dengan pelantikan ketua baru. Periode berakhir, begitu pula dengan kepemimpinan Mbak Tika dalam Finger Kine Klub. "Lega", kata Mbak Tika. Dia menuturkan, banyak pelajaran berharga yang dia ambil dan banyak hal yang dapat dilakukan di Finger Kine Klub.

Sebenarnya, setelah periode berakhir, ada yang belum bisa ia wujudkan, yakni acara produksi besar. Cita - citanya adalah mempertemukan anak - anak Finger Kine Klub periode pertama hingga periode sekarang untuk melakukan produksi film bersama.

Mengakhiri wawancara, Mbak Tika mengatakan, dia ga akan pernah nyesel masuk Finger Kine Klub, Finger Kine Klub adalah rumah kedua baginya.

Oiya, untuk Banu, ketua Finger Kine Klub periode 2009/2010 dia berpesan, "Ban, jaga keluarga kita, jaga Finger Kine Klub seperti apa yang dilakukan oleh ketua - ketua sebelumnya"

3, 2, 1 and action !!


Beberapa komentar dari teman - teman :

David : "Jadi partner Mbak Tika selama satu periode baik koq, dia selalu mengerjakan tugas yang telah menjadi kewajibannya, sesuai jobdis dan ga menyimpang. Bravo FE Viva UKSW !"

Eka : " Dalam setiap tugas dan pekerjaan ok, tapi kurang deket dan pro aktif sama anak - anak"

Lia : "Salut buat Mbak Tika dan buat semua anak - anak Finger Kine Klub, hargai team work ya karena adanya pemimpin dan team work yang solid kita akan sukses"

FILM MERAH PUTIH




Film ‘Merah Putih’ bercerita tentang kehidupan 5 pria di Sekolah Tentara Rakyat setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 1947. Mereka adalah Amir (Lukman Sardi), Marius (Darius), Tomas (Donny Alamsyah), Soerono (Zumi Zola) dan Dayan (Rifnu Wikana). Tujuan mereka satu, menjadi pejuang yang kemerdekaan.

Kehidupan di pemusatan latihan tentara yang keras, membuat mereka harus belajar banyak soal dunia militer. Salah satunya tidak membuat keonaran dan kesalahan yang bodoh, kalau tidak, mereka akan dihukum. Awalnya perbedaan latar belakang suku, agama dan ras membuat beberapa hal tidak berjalan mulus, terutama antara Tomas dan Marius.

Tomas berasal dari keluarga peternak ayam yang bersuku Manado dan beragama Kristen. Sedangkan Marius adalah kaum atas asal Batavia. Alasan mereka pun berbeda untuk menjadi tentara, Tomas lebih berniat karena dia ingin membalas dendam atas ayahnya yang dibunuh tentara Belanda.

Saat itu memang Jepang sudah menyerah, namun Belanda berniat ingin mencaplok Indonesia lagi lewat agresi militernya. Mereka pun bersama tentara lainnya ditugaskan untuk memaksa Belanda mundur lewat pertempuran ‘hidup atau mati’.

‘Merah Putih’ adalah bagian pertama dalam sebuah kisah trilogi yang disutradarai oleh Yadi Sugandi. Dalam penggarapannya, ‘Merah Putih’ dibantu oleh sejumlah kru asing yang biasa mengarap film Hollywood. Diantaranya Adam Howarth, ahli efek khusus yang pernah terlibat dalam pengerjaan film Saving Private Ryan, Blackhawk Down, dan Harry Potter and The Sorcerer’s Stone. Selain itu, ada sutradara bidang laga Rocky McDonald (Mission Impossible II dan The Quiet American), jago make-up dan visual effects artist asal London Rob Trenton (sekuel Batman, The Dark Knight), serta ahli persenjataan asal Australia John Bowring (The Matrix, The Thin Red Line, X Men Origins; Wolverine). Bahkan sampai efek ledakan dan make up-nya dibuat sangat nyata sehingga bisa menggambarkan suasana peperangan. Anda pun bisa berpendapat sendiri bagaimana kualitas film yang berharga Rp 60 miliar.

Lokasi syuting lebih banyak di Bandungan, Ungaran, Jawa Tengah. Sisanya, syuting dilakukan di Jogjakarta, Depok, Bogor, dan Jakarta.

Cerita ‘Merah Putih’ dirasa tepat menjelang HUT RI ke-64 yang bisa kembali mengingatkan penonton akan arti nasionalisme. Tak hanya itu di tengah makin menjamurnya film horor, ‘Merah Putih’ bisa menjada pilihan penikmat film.

‘Merah Putih’ bisa disaksikkan mulai 13 Agustus 2009 di bioskop kesayangan Anda.


source: http://angga.web.id & http://akhdian.net

Istilah - istilah sputar produksi video




Acting :
Adegan/lakon yang diperankan oleh pemeran (aktor/aktris/talent) mengikuti skenario yang telah ditetapkan. Akting meliputi bahasa tubuh, ekspresi wajah dan dialog.

Agent (Agent Model) :
Seseorang yang bekerja mewakili kepentingan aktor/aktris dalam berhubungan dengan produser serta orang-orang lain dalam dunia produksi film. Agent ini amat berperan dalam mencarikan job serta membangun karir para artis.

Art Director (Penata Artistik):
Pengarah artistik dari sebuah produksi, bertanggung jawab dalam penyediaan set lokasi shooting serta properti penunjang, sesuai tuntutan cerita dalam skenario.


Audio Mixing :

Proses pengaturan suara dari berbagai macam jenis input, menghasilkan unsur sound yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan cerita.

Angle :
Sudut pengambilan gambar, amat berpengaruh dalam penciptaan komunikasi yang diharapkan dari sebuah gambar sebagai bahasa visual. Low Angle yaitu pengambilan gambar dari bawah obyek, lazim digunakan untuk menampilkan keagungan/kewibawaan obyek. High angle ialah pengambilan gambar dari ketinggian, lazim digunakan untuk menampilkan ketidakberdayaan obyek. Close-up (CU) ialah pengambilan jarak dekat dimana obyek tampak dengan jelas (pada manusia, sebatas wajah hingga leher atau dada); Extreme Close Up (ECU) ialah pengambilan yang lebih dekat lagi sehingga layar dipenuhi oleh bagian dari wajah; Medium Shot (MS) ialah pengambilan dari jarak sedang, dimana manusia akan tampil keseluruhan bagian tubuhnya; Long Shot (LS) ialah pengambilan gambar dari jarak jauh dimana obyek akan terlihat bersama dengan lingkungan terdekatnya.

Angle juga berkaitan dengan pergerakan kamera berikut ini :
- Pan ialah pergerakan kamera secara horisontal ke kiri atau ke kanan;
- Tilt ialah pergerakan kamera secara vertikal ke atas atau ke bawah;
- Track/Dolly ialah pergerakan kamera yang sejajar mengikuti pergerakan obyek yang bergerak;
- Zoom In ialah perbesaran gambar (fungsi pada kamera video),
- Zoom Out ialah perkecilan gambar (fungsi pada kamera video).

Animator :
Pembuat animasi. Klip animasi biasanya dikerjakan secara khusus oleh seorang animator, lalu diserahkan kepada editor video untuk digabung dengan bagian gambar lainnya.

Audio Effect :

Efek suara. Sejumlah adegan memerlukan efek suara agar meningkatkan kesan visual. Misalnya pada adegan baku hantam dimana tidak terjadi perkelahian sesungguhnya, efek suara dibuat dan ditambahkan pada proses editing video untuk memperkuat kesan telah terjadinya perkelahian sesungguhnya.

Ambience :
Suara natural dari obyek gambar.

Background :
Gambar latar belakang.

Boom :

Mikrofon besar yang dipasang pada tiang portabel yang dipasang pada tempat terdekat yang mungkin, di sekitar pelaku adegan, agar dapat secara optimal menangkap dialog pemeran. Orang yang mengoperasikan boom ini disebut dengan Boom Man.

Breakaway :

Properti sekali pakai, misalnya gelas atau kertas, yang akan menjadi rusak dalam sekali pakai sesuai tuntutan cerita.

Breakdown :
Arti aslinya ialah perincian. Dapat merujuk ke rincian bujet produksi maupun aktualisasi pengeluaran biaya, atau dapat pula berarti rincian perencanaan adegan shooting.

Budget :
Anggaran pengeluaran keseluruhan dari produksi film. Bujet yang biasanya ditentukan sejak awal oleh produser ini akan amat menentukan bagaimana suatu rencana produksi video akan dieksekusi, menyangkut sewa alat, sumberdaya manusia, properti, dan sebagainya.

Blocking :

Area yang masuk dalam cakupan tangkapan kamera video. Para pemeran serta properti harus masuk dalam area blocking ini, dan sebaliknya area ini harus steril dari properti atau kru produksi.

Back Light :
Sumber cahaya utama yang berada di belakang obyek shooting dan menghadap ke kamera. Pada kebanyakan kasus, backlight ini merupakan kesalahan mendasar yang sering dilakukan oleh kameramen amatir sehingga obyek menjadi tak jelas (gelap). Pada kasus khusus, teknik ini digunakan misalnya untuk dengan sengaja menyamarkan identitas obyek.

Bumper :
Klip gambar biasanya berupa animasi yang berperan sebagai pembuka suatu acara televisi. Bumper in digunakan sebagai tanda suatu acara akan dimulai lagi setelah jeda iklan, sedangkan bumper out ialah penanda bahwa acara akan berhenti sejenak untuk jeda iklan.

Camera Department :
Bagian yang bertanggung jawab untuk menyediakan dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memproduksi film, serta proses-proses yang menyertainya.

Cameraman :
Orang yang bertugas mengoperasikan kamera film/video. Pada suatu produksi besar, cameraman ini terbagi menjadi sejumlah peran khusus yaitu Penata Fotografi (yang bertugas mengatur penempatan dan pergerakan kamera serta pencahayaan), Operator kamera yang langsung mengoperasikan kamera, serta sejumlah asisten untuk mengurus hal-hal lain seperti mengatur fokus kamera, dan sebagainya.

Camera Tracks :
Lintasan kamera, suatu alas datar berupa metal atau lembaran kayu tipis yang diletakkan di permukaan lantai sebagai tempat pergerakan kamera (yang dipasang pada sebuah alat beroda tertentu, disebut dolly). Lintasan ini berguna agar dihasilkan gerakan kamera yang lembut. Camera track dapat pula berbentuk lintasan rel panjang, sementara kamera terpasang pada suatu kamera dolly.

Casting :
Proses pencarian orang yang tepat untuk memerankan tokoh tertentu dalam cerita. Casting ini dipimpin oleh seorang juru casting atau casting director yang amat memahami karakter yang dibutuhkan oleh cerita. Rencana casting ini telah diumumkan sebelumnya kepada publik atau agent sehingga para artis/aktor dapat mempelajari skenario lalu mempersiapkan adegan yang akan ditampilkan sebagai unjuk kebolehan.

Clapper Boards :
Sepasang papan berengsel yang diketukkan sebagai tanda dimulainya shooting. Papan ini berisi sejumlah informasi antara lain titel produksi, nomor adegan (scene), produser, dan tanggal shooting adegan. Informasi pada papan ini dicatat oleh pencatat adegan yang kemudian akan memberi catatan tambahan tentang keberhasilan adegan yang di-shooting. Informasi ini juga terrekam oleh kamera video, yang kelak akan memudahkan proses editing video untuk memilih potongan gambar mana yang akan dipakai dan dirangkai dengan gambar lainnya.

Commercial :
Iklan. Video singkat yang umumnya berdurasi 60, 30, atau 15 detik yang dibuat khusus untuk mempromosikan suatu produk.

Costume Designer :
Orang yang merancang pakaian/kostum yang akan dipakai oleh para pemeran film.

Cue :
Tanda bagi aktor/aktris dalam film untuk memunculkan bagiannya dalam dialog atau tindakan. Isyarat ini dapat berupa tindakan aktor/aktris lainnya, bagian akhir dari sebuah dialog, tanda dari sutradara atau isyarat cahaya.

Cue Light :
Bola lampu kecil yang dapat dinyalakan atau dimatikan oleh sutradara atau asisten sutradara untuk memberi isyarat kepada para pemeran. Lampu ini diletakkan diluar jangkauan pandang kamera tetapi dalam jangkauan pandang pemeran.

Cut and Hold :
Perintah dari sutadara agar adegan diberhentikan namun para pemeran tetap berada dalam posisinya. Pada kasus ini, sutradara mungkin ingin memeriksa pencahayaan, posisi, atau adegan lain yang berkaitan.

Cut to Cut :

Peralihan gambar dari adegan satu ke adegan lainnya secara langsung tanpa pemakaian transisi.

Credit Title :
Penampilan nama-nama kru produksi serta para pendukung acara.

Chroma Key :

Sebuah teknik efek visual dimana adegan shooting dilakukan dengan latar belakang layar berwarna tertentu (biasanya hijau atau biru). Pada proses editing, warna layar yang digunakan ini menjadi key untuk dihilangkan (dijadikan transparan) untuk diisi dengan gambar background yang telah disiapkan untuk tujuan itu.

Cutting on Beat :
Teknik pemotongan dan penyusunan gambar pada saat editing video berdasarkan tempo sound yang digunakan. Teknik ini amat terasa efeknya misalnya pada videoklip musik yang bertempo cepat.

Clip Hanger :

Sebutan bagi adegan atau gambar yang akan mengundang rasa ingin tahu penonton tentang kelanjutan acara, namun harus ditunda karena harus tampilnya jeda iklan komersial.

Cut :

Pemotongan gambar

Crane :
Alat khusus yang dilengkapi dengan tiang, tuas dan katrol untuk tempat menggantung kamera sehingga kamera dapat digerakkan secara fleksibel dinamis termasuk perputaran penuh 360 derajat, menghasilkan angle yang unik, dinamis dan kadang dramatis. Alat ini dapat digerakkan oleh secara manual oleh operator melalui sebuah tuas, ada pula yang dilengkapi dengan remote control. Jimmy Jib ialah sebuah merk dagang yang terkenal alat crane semacam ini.

Clip On :
Mikrofon khusus berukuran kecil yang dapat diselipkan pada obyek sehingga tidak terlihat oleh pemirsa.

Depth of Focus :

Area tempat berbagai benda yang diletakkan dengan berbagai ukuran jarak di depan lensa akan tetap memperoleh fokus yang tajam.

Director :

Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser.

Documentary :
Film yang menyajikan cerita nyata, dilakukan pada lokasi yang sesungguhnya. Juga sebuah gaya dalam memfilmkan dengan efek realitas yang diciptakan dengan cara penggunaan kamera, sound, dan lokasi.

Dolly :
Kendaraan/alat beroda untuk membawa kamera dan operator kamera selama pengambilan gambar. Dolly biasanya dapat didorong dan diarahkan oleh satu orang yang disebut Dolly Grip.

Dubbing :
Perekaman suara manusia secara sinkron dengan gambar film. Suaranya mungkin atau mungkin tidak berasal dari aktor/aktris yang sesungguhnya serta bisa juga bahasa yang digunakan ketika film tersebut dibuat. Aktor/aktris menggunakan gambar dan soundtrack playback sebagai panduan untuk mensinkronkan gerakan bibir dalam gambar dengan perekaman suara terbaru. Umumnya digunakan untuk memperbaiki perekaman asli yang buruk., performa artistik yang tidak dapat diterima atau kemungkinan kesalahan dalam dialognya. Juga digunakan untuk perekaman lagu dan versi bahasa lain setelah proses pemfilman.

Depth of Field :

Area dimana seluruh obyek yang duterima oleh lensa dan kamera muncul dengan fokus yang tepat. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh jarak antara obyek dan kamera, focal length dari lensa dan f-stop

Editing Departement :

Divisi dimana semua potongan film yang telah dihasilkan digabungkan sehingga membentuk urutan yang koheren, dengan bantuan kru lain termasuk sutradara atau produser.

Electric Departement :

Bertanggung jawab terhadap penjagaan dan penyediaan segala peralatan listrik selama proses produksi film, misalnya: lampu, kabel, mesin diesel. Electrician ialah anggota staf departemen ini.

Ext. :
Eksterior. Bagian manapun dari film yang direkam di luar ruangan; jalanan kota, stadium, gurun, hutan, atau puncak gunung, beberapa lokasi dapat dibuat ulang di sounstage studio namun tetap dinamakan eksterior dalam naskah.

Extreme Close Up :

Pengambilan gambar dari jarak amat dekat

Fade Out, Fade In :

Jenis transisi dari gambar kosong (blank) ke kemunculan gambar tertentu (fade in) atau dari gambar tertentu ke blank (fade out). Sering digunakan untuk menekankan berlalunya waktu atau akhir dari adegan atau cerita.

Fast Motion :
Melakukan pemfilman dengan kecepatan dibawah standar kemudian memproyeksikan dengan kecepatan standar untuk membuat tindakan terlihat lebih cepat dari normal. Efek ini sering digunakan untuk mempercepat tempo, menyesuaikan diri dengan sound yang dipakai.

Fifty-fifty :
Sudut pengambilan gambar ketika dua orang pemeran saling berhadapan sehingga berbagi lensa dengan adil. Juga disebut sebagai a two shot atau a two.

Fill Light :
Merupakan bagian dari teknis pencahayaan dasar “Three Point Lighting”, digunakan untuk meniadakan bayangan yang timbul akibat adanya key light.

First Run :

Pertama kali sebuah film dilepas ke bioskop untuk ditonton. Saat ini lebih dikenal dengan Gala Premiere.

Flare :

Efek visual yang timbul ketika suatu obyek memantulkan cahaya yang tidak diinginkan secara langsung kepada lensa kamera. Meski seringkali efek ini tidak diinginkan, namun pada sejumlah software editing video justru terdapat fitur untuk memunculkan simulasi flare ini untuk meningkatkan realitas visual.

Flashback :

Secara harfiah berarti kilas balik. Yaitu alur cerita yang mundur ke belakang mengisahkan kejadian lampau yang dapat menjelaskan latar belakang penyebab kondisi yang ada sekarang.

Focus :

Gambar secara detail dan tajam, dengan warna yang mendekati aslinya, yang diperoleh dengan setting lensa kamera agar memiliki nilai jarak fokus yang benar. Pada sejumlah kamera handycam, fokus ini bersifat otomatis hasil deteksi kamera. Sedangkan pada kamera yang memiliki setting manual fokus, gambar yang fokus diperoleh jika kameramen pandai mengatur setting fokus ini yang juga memerlukan kejelian mata. Atau kadang digunakan pengukuran jarak agar dapat melakukan setting fokus secara lebih akurat.

Fog Maker :
Menggunakan cairan khusus sehingga fog maker dapat memunculkan efek kabut, asap, efek kabur (blur), dan kelembaban. Dengan menggunakan cairan jenis lain maka dapat digunakan untuk menghilangkan kabur yang tidak diinginkan. Alat ini dapat berukuran kecil, mesin yang dapat digenggam atau mesin besar yang diletakkan di kereta.

Follow Focus :
Perubahan fokus kamera selama adegan untuk mempertahankan fokus pada pemeran yang bergerak mendekati atau menjahui kamera.

Follow Shots :

Pengambilan gambar dengan kamera bergerak memutar untuk mengikuti pergerakan pemeran dalam adegan.

Footage :

Gambar-gambar yang telah tersedia dan dapat digunakan.

Frame per Second (fps) :

Jumlah frekuensi penampilan frame gambar tiap detiknya. Video sebagai “gambar bergerak” sebenarnya hanya merupakan kesan/ilusi penglihatan mata, sebab pada kenyataannya video tersebut terdiri dari serangkaian gambar diam yang ditampilkan berurutan dalam durasi waktu yang sangat singkat. Pada video format PAL, satu detik video terdiri dari 25 gambar, disebut sebagai 25 fps (frame per second), sedangkan format NTSC memiliki 30 gambar, disebut sebagai 30 fps.

Freelancer :

Orang yang tidak terikat kontrak dengan produser atau perusahaan manapun.

Freeze :

Perintah bagi pemeran untuk menghentikan aksi namun mempertahankan posisinya. Dalam film yang aktor/aktris atau obyek lain muncul dengan tiba-tiba misalnya “pop in” pada layar maka aktor/aktris dalam adegan akan diminta untuk diam. Orang atau obyek kemudian ditempatkan di posisinya kemudian perintah untuk “action” diberikan dan adegan dilanjutkan. Dalam pemotongan film di bagian tengah dari masuknya aktor/aktris atau penempatan obyek akan dihilangkan.

Gobo :

Layar kayu yang dicat hitam. Digunakan untuk menghalangi cahaya dari sati atau lebih pencahayaan lampu studio, suatu set peralatan yang digunakan untuk mecegah jatuhnya cahaya yang tidak diinginkan ke lensa kamera atau area set. Biasanya diletakkan pada sanggahan yang dapat disesuaikan. Gobo tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran.

Hairdresser :

Spesialis penata rambut untuk film. Seorang hairdresser mungkin bekerja dengan penata rambut laki-laki maupun perempuan.

Hand Held :

Mengambil gambar dengan kamera ringan seperti handycam, jenis yang dapat ditahan oleh operator kamera dengan tangannya selagi mengambil gambar, berlawanan dengan meletakkannya pada gear head atau tripod. Memberikan fleksibilitas yang lebih. Teknik penggunaan kamera dengan tangan tanpa tripod

Hot Set :
Suatu set yang telah diisi barang dan dekor untuk syuting. Penggambaran ini biasanya mengindikasikan bahwa set tersebut tidak boleh dimasuki atau digunakan.

Hot Spot :

Area dalam set yang memiliki pencahayaan yang sangat terang.

Hunting Location :

Proses pencarian dan penggunaan lokasi yang tepat dan terbaik untuk syuting.

Idiot Cards :

Kartu besar tempat dialog dituliskan untuk aktor yang tidak dapat mengingat kalimatnya. Dapat juga berarti sebuah bagian mesin elektronik yang mahal disebut Tele-Prompter, dimana sebuah gulungan kertas ditempatkan di depan atau dekat dengan kamera dan dituliskan dialognya dengan huruf yang besar sehingga mudah untuk dibaca. Bisa juga disebut dengan Cue cards.

Independent :

Seseorang yang membuat film tanpa dipekerjakan oleh sebuah studio besar.

Insert Shot :

Suatu obyek biasanya yang dicetak seperti surat kabar atau sebuah jam, dan dimasukkan ke dalam rangkaian untuk menjelaskan tindakan.

Int. :

Interior. Bagian dari film yang diambil didalam ruangan. Interior dapat berupa set yang dibentuk di studio atau diluar studio. Lebih dikenal sekarang ini sebagai location interiors.

Iris :
bagian yang terbuka dari sebuah lensa atau bagian belakang yang mengatur masuknya cahaya kdalam film. ukuran Iris dapat dikontrol oleh operator kamera.

Jell :
Gelatin atau materi plastik berwarna yang digunakan di depan sebuah lampu untuk mengubah warna cahaya dari lampu tersebut. Bisa juga disebut dengan Gel.

Jumping Shot :
Proses pengambilan gambar secara tidak berurutan

Jimmy Jib :
Merek dagang, lihat Crane.

Key Light :
Cahaya utama yang digunakan untuk menerangi obyek shooting.

Light Meter :

Instrumen kecil dan dapat dipegang dengan tangan yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya.

Lining Up :
Membatasi adegan. Operator kamera atau sutradara mengatur penempatan kamera sehingga mencakup ruang pengelihatan yang diinginkan. Dapat juga berarti framing.

Limbo :

Melakukan pengambilan gambar pada area atau set yang tidak dapat dijelaskan sebagai suatu lokasi khusus. Dapat digunakan untuk adegan close-up, insert, dan lain sebagainya.

Lip-Sync :
Sesi perekaman saat seorang aktor/aktris menyesuaikan suaranya dengan gerakan bibir dari gambar.

Long Shot :

Gambar direkam dari jarak jauh. Biasanya digunakan dengan cara pengambilan gambar dari sudut panjang dan lebar.

Make-Up Departement :

bagian yang bertanggung jawab terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan skenario pada saat syuting.

Match :

Menghasilkan ulang suatu tindakan yang dilakukan dalam adegan lain sehingga keduanya dapat dipotong sehingga menghasilkan posisi yg dapat disesuaikan.

Matching Directions :

Penyesuaian adegan dalam film seperi masuk dari kiri ke kanan sehingga orang atau alat transportasi dalam film tidak memiliki arah yang terbalik ketika pengambilan gambar lain dimasukkan.

Measuring Tape :
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur jarak dari lensa ke subyek dengan tujuan untuk menentukan fokus secara tepat.

Microphone Shadow :
Munculnya bayangan dari mikrofon pada bagian set yang masuk pada area pandang kamera. Bila muncul pada gambar maka it’s a no-no (gambar tidak terpakai)

Mock-Up :

Tiruan suatu benda yang dibuat seperti asli tapi hanya berupa bagian tertentu saja menurut kebutuhan.

M.O.S. :
Porsi gambar dari sebuah adegan yang diambil tanpa merekam suaranya. Inisial ini awalnya muncul dari sutradara Eropa yang tidak dapat mengucapkan WS dan mengatakan Mit Out Sound.

Moving Shot :
Teknik pengambilan gambar dari obyek yang bergerak.

Music Departement :

Bertanggungjawab dalam pengaturan atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film.

Master Control :

Perangkat teknis utama penyiaran untuk mengontrol proses distribusi audio dan video dari berbagai input pada suatu produksi acara.

Medium Shot :

Gambar diambil dari jarak sedang.

N.G. :

No Good (tidak bagus). Istilah ini dipakai sebagai catatan atau komentar terhadap pengambilan gambar yang tidak bagus pada laporan kamera dan suara, misalnya N.G. Sound, N.G. Action

NTSC (National Television Standards Committee)

Sistem reproduksi sinyal televisi yang lazim digunakan di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Sistem NTSC terdiri dari 525 garis scanning dengan frekuensi penciptaan gambar 30 fps (frame per secod).

O.S. :
Off Screen (tidak tampak pada layar)

Opening Scene :

Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita. Adegan ini harus dikemas secara kreatif untuk mengundang kepenasaran penonton agar melihat keseluruhan tayangan.

PAL (Phase Alternation by Line) :
Sistem reproduksi sinyal televisi yang lazim digunakan di Eropa dan negara-negara lain termasuk Indonesia. Sistem PAL terdiri dari 625 garis scanning dengan frekuensi penciptaan gambar 25 fps (frame per secod).

Plot :
Alur cerita dalam sebuah naskah skenario.

P.O.V. :
Point of View, yaitu sudut pandang penceritaan. Istilah yang kerap digunakan dalam skenario.

Producer :
Sebutan bagi orang yang memproduksi film meski tak harus berarti membiayai produksi atau menanamkan investasi dalam produksi tersebut. Tugas produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan anggaran yang telah disepakati.

Production Unit :

Unit produksi yang terdiri dari sutradara, kru kamera, kru tata suara, bagian listrik dan semua orang yang terlibat dalam suatu produksi.

Panning :
Pergerakan kamera secara horisontal (ke kiri atau ke kanan) untuk memperluas liputan obyek.

Rain Cluster :

Perangkat khusus yang digunakan untuk menciptakan simulasi efek hujan. Sebagai alternatif ialah pemakaian mobil pemadam kebakaran.

Reflector :

Alat yang berfungsi untuk memantulkan cahaya, yang selain berfungsi untuk mengoptimalkan cahaya yang ada (baik sinar matahari pada shooting outdoor atau cahaya lampu pada shooting indoor), juga untuk memendarkan cahaya agar lebih soft. Bisa terbuat dari bahan apa saja asal memiliki pantulan cahaya yang optimal (jadi harus berwarna putih/terang), misalnya berupa lembaran alumunium foil yang ditempelkan pada lembaran busa/stereoform yang tebal.

Remake :
Produksi suatu film yang sebelumnya pernah diproduksi. Film remaking dibuat dengan penyesuaian konteks cerita terhadap keadaan jaman terkini dimana peradaban dunia sedang berubah dengan amat cepatnya. Misalnya, kisah cinta klasik Romeo dan Juliet akan difilmkan dengan konteks keadaan terkini dimana komunikasi bisa dilakukan dengan berbagai cara yang tidak terdapat pada jaman dulu.

Re-Run :
Memutar ulang suatu film atau program acara televisi.

Resolution :
Kemampuan lensa atau film untuk menangkap serta menunjukkan detail obyek.

Re-Take :

Pengulangan adegan dalam shooting, bisa disebabkan oleh kegagalan akting, dialog, pencahayaan, ketidaksiapan kru, dsb.

Reverse Angle :

Sudut pengambilan gambar : arah angle yang sebaliknya dari angle gambar yang telah diambil.

Roll :
Perintah yang biasanya diberikan ketika kru produksi telah siap di posnya masing-masing sehingga adegan tertentu siap dilaksanakan.

Running Shot :
Pergerakan kamera secara dinamis untuk menyesuaikan diri dengan gerakan pemeran di lokasi shooting.

Rundown :
Alur cerita dari program acara yang dibatasi oleh durasi, segmentasi, dan bahasa naskah.

Scouting :

Mencari lokasi untuk produksi. Dapat juga berarti mencari calon pemeran yang berbakat (talent scouting).

Screen Play :

Naskah yang sudah lengkap dan siap menjadi panduan dilaksanakannya produksi film.

Screen Test :

Kesempatan ujicoba bagi pemeran untuk memperlihatkan kemampuannya, sudah lengkap dengan penggunaan kostum, make up dan set properti.

Script Clerk :

Petugas yang bertanggungjawab mencatat sejumlah hal dari pengambilan gambar seperti durasi, akting, properti, pencahayaan dan keberhasilan adegan. Catatan ini kelak akan digunakan oleh editor saat editing video untuk menentukan mana potongan gambar yang akan diambil dan dirangkai dengan gambar lain, dan mana potongan gambar yang harus dibuang.

Sequence :

Rangkaian adegan.

Soft Focus :
Pengambilan gambar dengan lensa yang di-set agak out of focus sehingga subyek tampak agak blur.

Soft Light :
Pencahayaan lembut yang memungkinkan tiadanya bayangan dan berpendarnya cahaya secara merata dan menyeluruh.

Still man, Photographer :

Pengambil gambar foto yang bertanggungjawab atas publikasi dan pembuatan foto di lokasi. Foto ini dapat berfungsi sebagai dokumentasi behind the scene, dokumentasi proyek, maupun keperluan promosi.

Story Board :

Gambar ilustrasi adegan. Merupakan salahsatu bentuk upaya sutradara menerjemahkan bahasa tulisan skenario ke dalam bahasa gambar dan untuk memudahkan kegiatan shooting itu sendiri dengan dijelaskannya posisi, adegan, dialog, serta pekerjaan-pekerjaan lainnya. Gambar ilustrasi ini dirancang oleh sutradara bekerjasama dengan kru lain (misalnya penata fotografi), dan dilakukan oleh seorang juru gambar yang disebut storyboard artist.
Sketsa yang menggambarkan adegan dalam film. Digunakan untuk mempemudah pengambilan gambar.

Sunshade (Lens Shade) :
Kotak persegi panjang yang dipasangkan di bagian depan lensa kamera untuk membatasi masuknya cahaya secara langsung ke dalam lensa.

Superimposure :

Penempatan sebuah layer video/grafis diatas layer lainnya, misalnya layer title atau subtitle (terjemahan bahasa) yang diletakkan di atas gambar film.

Swish Pan :

Jenis panning (pergerakan kamera horisontal ke kiri atau ke kanan) yang cepat yang memunculkan kesan gerakan mata yang menoleh ke samping dengan cepat.

Simply Shot :
Gambar yang diambil dari sudut mudah, biasanya untuk adegan pengisi yang kurang penting.

Script Format :

Format penulisan naskah skenario. Format ini bisa fleksibel tergantung tingkat kerumitan produksi video itu sendiri.

Script Marking :

Pemberian tanda pada naskah skenario untuk menjadi catatan bagi para kru produksi yang terlibat.

Stock Shot :

Persediaan gambar hasil shooting yang dapat dipilih pada saat proses editing.

Suspense :

Adegan drama yang menegangkan. Juga merupakan salahsatu genre (jenis) dari film.

Steady Shot :

Gambar sempurna dan tidak terlalu banyak bergerak dan dapat dinikmati dengan posisi diam.

Slow Motion :

Pergerakan gambar yang diperlambat, suatu proses yang dikerjakan saat editing video. Pada produk home video seperti wedding video, teknik ini kerap digunakan untuk pada gambar-gambar yang berisi momen bahagia dengan iringan lagu cinta yang bertempo lambat. Slow motion juga kerap digunakan secara “terpaksa” yaitu jika pada proses editing video ternyata ditemukan gambar yang rusak sedemikian rupa padahal informasi yang tertangkap oleh audio-nya penting, sehingga klip video dibuat slow motion untuk menyesuaikan diri dengan durasi audio-nya.

Tag Line :
Semboyan atau motto suatu film yang dapat merangsang imajinasi calon pemirsa tentang apa yang akan disuguhkan dalam film tersebut.

Teaser :
Cuplikan adegan-adegan menarik yang mewakili keseluruhan cerita, digunakan di televisi untuk menarik perhatian pemirsa.

Tilt :

Pergerakan kamera naik turun (vertikal)

Tone Track :

Sound asli yang diperoleh dari lokasi shooting tertentu yang seringkali tidak disadari namun dapat meningkatkan realitas hasil shooting. Misalnya pada wedding video, suara hiruk pikuk (crowded) merupakan suara yang khas terjadi pada acara resepsi, dan sebaiknya tidak dihilangkan seluruhnya pada proses editing video.

Top Lighting :

Teknik pencahayaan. Sumber cahaya berada di atas subyek sehingga turun menyinari. Sebagai kebalikannya ialah Down Lighting yang umumnya dipakai untuk kemunculan makhluk misteri dalam suatu adegan horror.

Treatment :

Rencana sutradara untuk menerjemahkan skenario dengan menyusun adegan, dialog dan prosedur kerja kru produksi di lokasi shooting.

Triangle :
Alat penahan kaki tripod agar tetap stabil meskipun diletakkan di permukaan yang licin.

Two/Three Shot :
Sudut pengambilan gambar. Yaitu layar kamera berisi dua/tiga obyek yang sedang berperan.

Viewfinder :
Instrumen optik yang yang memungkinkan operator kamera untuk mengikuti aksi para pemeran saat kamera sedang diaktifkan.

VTR :

Video Tape Recording. Alat pendukung produksi.

Very Long Shot (VLS) :
Jenis sudut pengambilan gambar. Gambar diambil dari jarak yang sangat jauh untuk maksud khusus, misalnya menjelaskan keterkaitan obyek shooting dengan lingkungannya.

Voice Over :

Suara tambahan atau alih suara yang dilakukan pada proses editing, untuk mendukung isi cerita.

Wardrobe Departement :

Bagian yang bertanggungjawab atas pemilihan pakaian yang akan dipergunakan untuk shooting.

White Balance :
Prosedur untuk men-setting lensa kamera agar dapat menangkap warna detil obyek secara akurat, biasanya dengan menghadapkan kamera ke suatu obyek berwarna putih selama beberapa saat.

Wind Machine :

Blower (kipas angin besar) yang digunakan untuk menciptakan efek angin.

Wrap :

Aba-aba untuk seluruh kru produksi bahwa sesi shooting telah selesai.


Source : http://www.captun.net/istilah_.html

Lomba @ LIGA FILM INDIE dan FOTOGRAFI






LIGA FILM INDIE dan FOTOGRAFI

LOMBA FILM

Tema: "Preserving Indonesian Culture Toward Globalization"

Globalisasi dan perkembangan teknologi saat ini menyebabkan intervensi budaya asing ke Indonesia. Namun, penetrasi budaya tersebut tidak dapat dicegah, terutama dalam bidang seni. Indonesia adalah bangsa yang kaya akan seni budaya yang terbentuk dari ratusan suku adat dan membentuk Budaya Nasional. Film dokumenter ini berisi tentang penggambaran apresiasi dan usaha pelestarian masyarakat terhadap seni budaya nasional di tengah penetrasi budaya asing, yang tidak mustahil salah satu bentuknya merupakan perpaduan budaya nasional dengan budaya asing.



Syarat Lomba :

1. Peserta adalah masyarakat umum, tim terdiri dari 2-5 orang
2. Lomba ini dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp.50.000,- (Lima puluh ribu rupiah) (transfer ke rekening kami (bank mandiri) dengan no rekening 1570001602540 atas nama Riza Ferzia) bukti transfer dilampirkan saat pengiriman proposal dan film


Petunjuk Teknis :

1. Peserta diharuskan mengumpulkan film dokumenter dalam format MPEG2 (720x576) dalam DVD kepada panitia Lifidentra dengan durasi 15-20 menit.

2. Peserta wajib mengirimkan film beserta penjelasan mengenai film yang dibuat. Penjelasan di kertas A4 maksimal dua halaman, mencakup ide, judul, dan sinopsis.

3. Proposal dikirim dalam bentuk print out (hard copy) dan film dalam format DVD ke : Sekretariat BEM UI (dengan subjek surat : LIFIDENTRA)
Gd. Pusgiwa Lt.2 Kampus UI, Depok, Jawa barat 16424

4. Proposal dan film tersebut harus sudah diterima oleh panitia paling lambat tanggal : 3 September 2009

5. Peserta wajib melampirkan biodata dan scan/fotocopy tanda identitas (KTP/SIM/Kartu Tanda Mahasiswa/tanda pengenal lain) serta mencantumkan nomor telepon dan alamat e-mail.

6. Ide film harus orisinil dan belum pernah diikutsertakan pada lomba sebelumnya.

Contact Person: Sando (0852.1714.9337)



LOMBA FOTOGRAFI

Tema: "UniquelyBeautiful Indonesia"

Dalam lomba ini peserta diharapkan mengabadikan keindahan dan keunikan kebudayaan yang ada di Indonesia. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak sekali keunikan dari karya seni, adat istiadat yang tidak dimiliki oleh negara lain.

*Peserta wajib melampirkan biodata dan scan/fotocopy tanda identitas (KTP/SIM/Kartu Tanda Mahasiswa/tanda pengenal lain) serta mencantumkan nomor telepon dan alamat e-mail.

*Foto diterima paling lambat tanggal 3 September 2009.

*Lomba ini tidak dikenakan biaya pendaftaran

*Foto harus orisinil dan belum pernah diikutsertakan pada lomba sebelumnya.

*Terdapat kesesuaian dengan tema

*Foto tidak boleh di re-touch dengan photosofware kecuali untuk meng-crop dan menghias foto (contoh framming)

*Masing-masing foto diberi judul dan keterangan tanggal, lokasi pemotretan, dan keterangan foto berupa narasi singkat (jenis tulisan bebas) maksimal 150 kata.

*Foto bebas (full color ) ukuran 10 R

*Peserta maksimal mengikutsertakan 2 buah foto, yang merupakan foto tunggal (foto harus berbeda)

*Foto tidak boleh mengandung unsur SARA, pornografi, dan provokatif

*Peserta dapat menggunakan kamera digital maupun analog


foto dikirimkan dalam bentuk hard copy dan soft copy (dalam bentuk cd dan diberi label nama) ke Sekretariat BEM UI (dengan subjek surat : LIFIDENTRA)
Gd. Pusgiwa Lt.2
Kampus UI, Depok, Jawa barat 16424




contact Person:
Raisha: 0856 100 2989
source : http://www.lifidentraui2009.blogspot.com/

Rapat Perdana dg Ketua Baru

Sore ini, pukul 18.00 WiB diadakan rapat perdana dengan pemimpin rapat ketua baru Finger Kine Klub, Banuar Yudhaswara.

Rapat dimulai oleh Banu dengan membacakan struktur kepengurusan Finger Kine Klub periode 2009/2010. Ada beberapa perubahan kepengurusan, seperti adanya wakil ketua yang merangkap sebagai sekretaris dan bendahara, penggabungan divisi litbang dan humas, serta penggabungan divisi perkap dengan film. Struktur Kepengurusan seperti di bawah ini :

WaSekBen : David Adechandra A. P.

Divisi Litbangmas :
1. Lia (koord.)
2. Dian
3. Irene
4. Lucky

Divisi Produksi :
1. Eka (koord.)
2. Lili
3. Candra

Divisi Perkap Film :
1. Xtine (koord.)
2. Jessy
3. Prita
4. Iver

Kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan jobdis masing - masing divisi oleh Banu.


Lalu pembicaraan menyusun kegiatan selama periode ke depan yang pembahasannya akan dilanjutkan pada rapat berikutnya.


Rapat ditutup dengan sharing formulir festival film dari konfiden dan TV One...

Info Festival Film

1. Festival Film Pendek Konfiden 2009 akan berlangsung pada 14-21 November 2009. Peserta kompetisi tidak dikenakan biaya apapun. Proses pendaftaran berlangsung dari tanggal 6 April - 17 Agustus 2009 (cap pos). Film peserta yang tidak memenuhi persyaratan, tidak akan disertakan dalam proses seleksi.
Keterangan lebih lanjut, klik

http://www.konfiden.or.id/



2. TV ONE bekerja sama dengan yayasan Konfiden akan menyeleksi film pendek yang terkirim. Dan film pendek yang lolos seleksi dan kurasi akan ditayangkan di program "FILM PENDEK" di TV ONE.
Keterangan lebih lanjut, klik

http://www.tvone.co.id/

PELANTIKAN KETUA FINGER KINE KLUB


SELAMAT ATAS TERPILIHNYA

BANUAR YUDHASWARA

SEBAGAI KETUA FINGER KINE KLUB

PERIODE 2009 - 2010

Foto2 saat menghadiri CCEA

Beberapa waktu lalu Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi UKSW mengadakan Closing Ceremony Economic Awards. Berikut ini adalah beberapa foto yang diambil ketika Finger Kine Klub mengikuti acara tersebut.
































Pelatihan Kaderisasi SEMA



Tanggal 24-25 April 2009, SEMA FE UKSW mengadakan acara "Pelatihan Kaderisasi". Menurut Raisa Anggitawati, pimpinan koordinator acara, tujuan diadakannya acara ini adalah menyiapkan kader - kader Lembaga Kemahasiswaan Fe Uksw untuk periode selanjutnya (masa jabatan 2009/2010).


Acara hari pertama dimulai pukul 14.30 - 17.30 yang dibuka oleh sambutan Ketua SEMA FE dan sambutan dari pimpinan koordinator acara. Lalu dilanjutkan presentasi dari BPMF yang diwakili oleh Yosua (ketua umum BPMFE) dan Imelda, serta presentasi dari SEMA FE oleh Surya (ketua umum SEMA FE).


Acara hari kedua berlangsung dari pukul 9 pagi hingga 2 siang. Masih melanjutkan acara seperti hari pertama yaitu presentasi dari masing - masing unit dalam LK FE tentang apa, bagaimana, dan kegiatan apa saja yang ada dalam organisasi masing - masing. Dimulai dari Kelompok Studi Akuntansi, Finger Kine Klub juga ikut ambil bagian, Kelompok Studi Pembangunan, Teater Tilar, Kelompok Studi Manajemen, Mitra Gahana, dan yang terakhir Persekutuan Doa (Permen). Sayangnya dari unit Olahraga tidak ambil bagian dari presentasi. " Kami sudah meminta unit olahraga untuk mempresentasikan kegiatan organisasinya, tapi mereka tidak menyanggupinya", jawab Raisa. Walaupun dari unit olahraga tidak dapat hadir hal tersebut tidak mengurangi konsep acara yang telah dibuat satgas.


Tika, Ketua Finger Kine Klub, juga telah mendelegasikan Lia, David, Dewi, Banu, dan Christine untuk menjadi peserta pelatihan kaderisasi selama dua hari ini.


Inilah pendapat mereka mengenai keseluruhan acara dan presentasi dari unit organisasi yang menurut mereka paling menarik.

Banuar : " Acaranya kurang greget.... Presentasi yang menurutku menarik ya KSM "

Dewi : "Biasa aja, malah kayak EFA (Economic Family Activities) lg. Presentasi paling menarik dari KSM, walaupun singkat kata - katanya touching... menyentuh gitu. Dari Teater TiLar juga ok, terstruktur, tapi waktu drama ada yang ga konsen jadi ketawa gitu deh"

David : " Lumayan acaranya, cuma kurang greget di beberapa presentasi karena ada yang kurang bisa nunjukin bagaimana unit mereka, terus ada beberapa unit yang ga ikut jadi ga kLop. Paling menarik dari KSM, karena bisa kena banget ke inti kaderisasi"

Lia : "Acaranya emank ga ngebosenin kayak pelatihan kaderisasi tahun lalu, tapi materi pelatihan kaderisasi tahun lalu memang berguna banget, ada ESQ nya lagi. Mungkin karena acara tahun ini cuma dua hari jadi ada pemadatan materi deh... Presentasi paling menarik dari KSM, bener kata Dewi touching banget, apa lagi dengan kata - kata motivasi dari koh Theo sama Santo"

Christine : "Acaranya lumayan, banyak makannya, ada es buahnya lagi walaupun habis hujan tapi maknyusss. Yang paling menarik presentasi dari KSM walaupun cara penyamp[ainnya biasa saja tapi karena ada slide nya jadi menarik"




Si Jago Merah: Komedi Pantang Menyerah

Apa arti petugas pemadam kebakaran di mata Anda? Hanya profesi atau pahlawan? Iqbal Rais mempersembahkan 'Si Jago Merah' film komedi yang pantang menyerah bak petugas pemadam kebakaran.

Kisah ini dibuka dengan pertemuan 4 mahasiswa yang nunggak uang kuliah 4 semester sebesar Rp 5 juta. Mereka adalah Gito Prawito (Desta 'Club Eighties') anak pengusaha asal Sidoarjo, Dede Rifai (Ringgo Agus Rahman) anak pejabat yang korupsi, Kuncoro Prasetyo (Ytonk 'Club Eighties') anak pengusaha jamu dan Rojak Panggabean (Judika 'Idol') pemuda asal Medan.

Mereka kemudian mencari cara untuk membayar uang kuliah dengan menjual barang berharganya. Setelah itu apa? Mereka bahkan kesusahan untuk makan. Demi mengirit ongkos, keempatnya pindah kontrakan dekat kampus. Mereka pun bertemu dengan Mba Sally (Magdalena), pemilik rumah yang cantik namun kabarnya simpanan pengusaha.

Dede, Gito, Coro dan Rojak pun bekerja sambilan. Namun ternyata profesi mereka terlalu menyita banyak waktu hingga kuliah keteteran. Gito muncul dengan ide untuk menjadi petugas pemadam kebakaran. Menurutnya, kebakaran tak datang tiap hari sehingga tugas mereka pun tak banyak.

Ternyata menjadi petugas pemadam kebakaran tak seperti yang mereka kira. Konflik pun muncul saat Dede dikejar-kejar sahabat Nola (Poppy Sovia) yang berbadan besar gara-gara tak kunjung bayar hutang kepada kekasihnya itu. Apalagi Gito jatuh cinta dengan Airin (Tika Putri).

Si jago merah adalah mobil pemadam kebakaran butut yang bangun dari tidur panjangnya. Rojak yang mahasiswa tehnik mesin berhasil membuat si jago merah berjalan kembali. Karena itulah ke-4 pemuda itu diterima bekerja sebagai pemadam kebakaran.

'Pantang Pulang Sebelum Padam' adalah moto para petugas kebakaran yang akhirnya jadi inspirasi mereka. Tanpa disadari, mereka mencintai profesi tersebut dengan segenap
hati. Si jago merah jua lah yang mempersatukan mereka kembali.

Film bergenre komedi ini menyuguhkan banyak guyonan segar. Bagaimana Dede yang playboy, Coro si lemot, Rojak tukang provokatif dan Gito pemuda lugu memberikan porsi yang seimbang dalam film tersebut. Sebut saja adegan Dede yang merayu Francine Roosenda di mall atau saat Coro mencoba mencuri hati Mba Sally.

sumber resensi : http://movie.detikhot.com/readresensi/IKLB11171690/2008/11/12/si-jago-merah-komedi-pantang-menyerah


Ini merupakan film pilihan yang disajikan Finger Kine Klub dalam acara Bedah Film 2009 beberapa waktu lalu sebagai film utama setelah The Half Human.
Film si Jago Merah sendiri menarik peserta dengan komedinya yang kocak.

Kabar terbaru....

Ada kabar terbaru lagi tentang produksi besar Finger Kine Klub.
Sesuai kesepakatan anak-anak Finger Kine Klub yang hadir rapat pada hari rabu kemarin, ide cerita dari Eka batal digunakan dalam produksi nanti, tapi yang dipakai ide cerita dari Felix.
Selain itu juga dari bagian properti yang dikoordinatori oleh Iver mulai me-list dan mempersiapkan barang-barang yang akan digunakan untuk produksi.
Dari tim make up yang dikoordinatori oleh Irene juga mulai mempersiapkan alat - alat make up dan juga berencana latihan make up sebab smua anggota tim make up kecuali koordinatornya Irene, baru pertama kali mendapatkan tugasnya sebagai tim make up.

Agenda pertemuan minggu depan adalah membahas pembuatan story board dan floor plan.




" less talk do more"
(kamut anak-anak dr Finger Kine Klub)
^_^

Pencahayaan dalam Film

Pencahayaan dalam dunia visualisasi dapat menghasilkan efek yang dramatis dan imajinatif. Tata cahaya dalam film secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat unsur, yakni, kualitas, arah, sumber serta warna cahaya. Keempat unsur ini sangat mempengaruhi tata cahaya dalam membentuk suasana serta mood sebuah film.

Cahaya membentuk obyek dengan menciptakan sisi terang dan sisi bayangan dari sebuah obyek. Sisi terang adalah bagian permukaan obyek yang terkena cahaya sedangkan sisi bayangan adalah bagian permukaan obyek yang tidak terkena cahaya. Sisi terang sangat berpengaruh memperlihatkan bentuk tekstur halus dan kasar. Jika permukaannya halus cenderung memantulkan cahaya dan jika permukaannya kasar cenderung menyebarkan cahaya.

Sementara sisi bayangan terdiri dari dua jenis, yakni bayangan pada obyek dan bayangan dari obyek. Bayangan pada obyek tercipta jika cahaya gagal menerangi seluruh permukaan obyeknya, dalam hal ini umumnya adalah wajah manusia. Permukaan wajah yang dekat dg sebuah lampu minyak atau lilin, mampu memberikan bayangan dari hidung pada bagian pipi. Sementara lampu minyak dan lilin sendiri juga mampu menciptakan bayangan tubuh pada dinding di belakangnya. Hal ini disebut bayangan dari obyeknya.

KUALITAS PENCAHAYAAN


Kualitas cahaya merujuk pada besar kecilnya intensitas pencahayaan. Cahaya terang (hard light) cenderung menghasilkan bentuk obyek serta bayangan yang jelas. Sementara cahaya lembut (soft light) cenderung menyebarkan cahaya sehingga menghasilkan bayangan yang tipis. Sinar matahari atau cahaya lampu yang menyorot sangat tajam merupakan hard light dan cahaya langit yang cerah merupakan soft light.


ARAH PENCAHAYAAN

1. Frontal Lighting : cenderung menghapus bayangan dan menegaskan bentuk sebuah obyek atau wajah karakter.
2. Side Lighting : cenderung menampilkan bayangan ke arah samping tubuh karakter atau bayangan pada wajah.
3. Back Lighting : mampu menampilkan bentuk siluet sebuah obyek atau karakter jika tidak dikombinasikan dengan arah cahaya lain.
4. Under Lighting : ditempatkan di bagian depan bawah karakter dan biasanya pada bagian wajah. Efeknya seperti cahaya senter atau api unggun yang diarahkan dari arah bawah.
5. Top Lighting : sangat jarang digunakan dan pada umumnya untuk mempertegas sebuah benda atau karakter. Top lighting bisa pula sekedar menunjukkan jenis pencahayaan (buatan) dalam sebuah adegan, seperti lampu gantung atau lampu jalan.


SUMBER CAHAYA
Sumber cahaya dilihat pada karakter sumber cahaya, yakni pencahayaan buatan dan pencahayaan natural seperti apa adanya di lokasi setting.

Selama produksi film, sineas umumnya memakai 2 sumber cahaya yakni sumber cahaya utama (key light) dan sumber cahaya pengisi (fill light). Key light merupakan sumber cahaya paling utama serta paling kuat menghasilkan bayangan. Sementara fill light digunakan untuk melembutkan atau menghilangkan bayangan.


WARNA CAHAYA

Warna cahaya secara natural hanya terbatas pada warna putih (sinar matahari) dan kuning muda (lampu). Namun dg menggunakan filter, sineas dapat menghasilkan warna tertentu sesuai dengan keinginannya. Warna cahaya juga dapat digunakan untuk menghasilkan motif - motif tertentu.



[Dikutip dari buku Memahami Film karya Himawan Pratista]

Produksi lagi????

Sekarang ini, anak2 finger kine klub lagi disibukkan ma kegiatan non terstruktur tahun ini, yaitu produksi film lagi, setelah beberapa bulan ini disibukkan oleh kegiatan terstruktur Let's Make Movie dan Bedah Film. Film yang akan diproduksi masih film fiksi bergenre drama dan seputar cinta dan persahabatan...

Uh,,, kadang sih bosen juga ya..... ^_^

Yang berbeda adalah bergabungnya anak2 finger kine klub periode 2006 hingga 2008. Dan kali ini produksi dipimpin oleh anak finger angkatan 2008 yaitu Liliana...
Dengan ide cerita oleh Eka, dan rencananya akan disutradarai oleh David..

Sampai sekarang masih dalam tahap pra produksi, pengerjaan skenario dan shooting script...

Kabar perkembangan akan selalu diupdate di blog FINGER KINE KLUB SALATIGA...


Oiya, seluruh anggota Finger Kine Klub mengucapkan HAPPY BIRTHDAY buat KETUA FINGER KINE kita, Mb. Tika....


Wish U aLL The Best !
^_^

Workshop LMM


FINGER KINE KLUB
Buat acara Workshop Let's make Movie...
Disini kamu bisa ikut serta dalam pembuatan film plus ada materi - materi tentang film yang diberikan...
Acaranya dari tanggal 19, 20, 21 Maret 2009.
Kontibusi FE : Rp. 40.000
Kontibusi Non FE ; Rp. 50.000 (setelah kuota 30 orang dari FE terpenuhi maka akan dibuka untuk non FE)
Buruan daftar ya,,,,,
Pendaftaran dibuka dari tanggal 9-28 Februari 2009, di selasar PP-UKSW.
Dari jam 9 pagi sampai 2 siang,,,
Dari kontribusi tersebut mendapat
+ poin (untuk 2007 dan 2008 sebesar 50 seperti yang tercantum dalam KKM, selain 2007 dan 2008 sifatnya humanistik).
+ sertifikat
+ makan siang dan snack
+ materi tentang pembuatan film

CP : 085640326222 (LIA FINGER)

BURSA PANITIA

Finger Kine Klub mw buat acara Bedah Film 2009.
Acaranya nonton film + dskusi film gtu.
So,, Qta buka pndaftaran PANITIA Bedah Film.
Buat kmu ank2 FE UKSW dftar yach...
Pndftaran mulai tgl 27 Jan. - 6 Feb. 09
Di Selasar PP jam 9 mpe jam 2 siang.
(+) temen
(+) pengalaman
(+) poin keorganisasian (2007/2008)
(+) dll


www.fingerkinesalatiga.blogspot.com

The Pink Panther 2

The Pink Panther 2 adalah sekuel dari film The Pink Panther (2006) bergenre komedi yg akan dirilis 6 Februari 2009 mendatang.


Clouseau dikrim untuk liburan jauh dari Perancis oleh Chief Inspector Charles Dreyfus. Ketika Clouseau meninggalkan Perancis, berlian Pink Panther dan beberapa artifak sekali lagi telah dicuri !


Bersama dengan timnya Chief Inspector Pepperidge, Vicenzo (pengusaha asal Italia), Kenji (ahli elektronika dari Jepang), dan Sonia (ahli kriminologi asal India), Clouseau mengangani kasus tersebut. Lalu apakah mereka dapat menemukan pencuri sebenarnya? Let see this movie...



Cast :
Steve Martin as Inspector Jacques Clouseau
John Cleese as Chief Inspector Charles Dreyfus
Andy Garcia as Inspector Vicenzo
Alfred Molina as Chief Inspector Pepperidge
Yuki Matsuzaki as Kenji Mazuto
Aishwarya Rai as Sonia

Indosat Short Movie

"Hijaukan Dunia dengan Film-mu ! "


Sebuah tema yg diusung Indosat dalam sebuah kompetisi film pendek yg berhadiah total ratusan juta rupiah.
Pendaftaran dilakukan secara online di www.indosat.com/short movie

Syarat dan Ketentuan :
1. Karya harus orisinil
2. Film dapat berupa film dokumenter, animasi, fragment, iklan, atau trailer sesuai tema dengan genre bebas berdurasi 5 menit
3. Memasukan unsur brand Indosat ke dalam film
4. Materi film hanya bisa di-upload di microsite Indosat dg format apapun dan ukuran file max 10 MB.
5. Materi dikirim sebelum 31 Januari 2009.
6. Menggunakan camcorder, kamera digital, atau handphone.


For detail please see www.indosat.com/shortmovie

FEAST OF LOVE', Seribu Wajah Cinta

Cinta memang adalah sebuah fenomena yang tak pernah bisa diduga perwujudannya. Ada yang mewujudkan cinta dengan keindahan dan kasih sayang sementara tak jarang pula yang menganggapnya tak lebih dari sekedar penderitaan yang menyakitkan. Dan itulah yang ingin disampaikan oleh film ini.

Diana (Radha Mitchell) adalah seorang agen real estate yang menjalin hubungan asmara dengan Bradley (Greg Kinnear) yang memiliki sebuah coffee house di kota Oregon. Hubungan asmara Bradley sebelumnya dengan seorang wanita bernama Kathryn (Selma Blair) berakhir dengan kegagalan.

Sayangnya kali ini Bradley masih belum beruntung karena Diana juga menjalin hubungan dengan seorang pria bernama David (Billy Burke). Diana kemudian meninggalkan Bradley untuk David, pria yang dicintainya. Bradley yang merasa hancur kemudian dekat dengan Margaret (Erika Marozsan).

Di sisi lain, Harry (Morgan Freeman), Chloe (Alexa Davalos), dan Oscar (Toby Hemingway) masing-masing juga memiliki masalah dengan hubungan asmara mereka. Dari sekelompok kecil manusia yang dipersatukan lingkungan yang sama ini terlihat begitu rumitnya permasalahan asmara yang mereka hadapi dan tak bisa mereka tolak.

Film drama cinta ini diangkat dari sebuah novel karya Charles Baxter dengan judul yang sama. Dan ini bukanlah sesuatu yang mudah karena novelnya sendiri punya tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk divisualisasikan. Masalahnya, novel ini memiliki banyak karakter yang punya bobot hampir sama dan alur ceritanya sendiri selalu berubah-ubah sudut pandang.

Untungnya, Allison Burnett yang dipercaya mengerjakan naskahnya cukup mampu mengambil 'roh' dari novel ini meski tak bisa sepenuhnya dibilang taat pada sumber aslinya. Setidaknya karakter dan plot cerita masih bisa dialihkan dengan baik meski tak bisa sepenuhnya mengadaptasi seluruh alur cerita dengan sempurna.

Kasus yang sering muncul pada film hasil adaptasi novel adalah batasan durasi yang membuatnya jadi sulit untuk benar-benar mewakili sebuah deskripsi yang tergambar pada novelnya. Dan film FEAST OF LOVE ini juga bukan pengecualian. Ada beberapa proses yang terasa berjalan terlalu cepat dan sulit untuk diterima. Akibatnya memang agak sulit terlibat secara emosional dengan beberapa sudut dari film yang punya banyak alur ini. Untungnya para aktor dan aktris pendukungnya cukup mampu menghayati peran yang mereka bawakan dan memberikan 'jiwa' pada karakter yang mereka mainkan.

Secara umum. FEAST OF LOVE ini memang bukan tontonan ringan karena ide ceritanya sendiri sudah cukup berat. Dan yang jelas ini bukan tontonan untuk anak kecil lantaran banyak adegan seks meski semuanya diperlihatkan dengan sentuhan seni dan sama sekali tak terkesan erotis. (kpl/roc)

sumber : http://www.kapanlagi.com/a/0000006480.html
 

Search This Blog

End Wellcome

Selamat Datang di Situs Latihan Finger Kine Klub

Translate

Total Tayangan Halaman