Pelantikan Ketua Finger Kine KLub


Selamat Atas Terpilihnya Banuar Yudhaswara
Sebagai Ketua Baru
Finger Kine Klub Periode 2009/2010

Slide Photo


Beberapa waktu lalu Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi UKSW mengadakan Closing Ceremony Economic Awards
Berikut ini adalah beberapa foto yang diambil ketika Finger Kine Klub mengikuti acara tersebut.

Bedah film 2009


Agenda Kerja Periode 2008/2009
Pelaksanaan Acara Bedah Film.

Let's Make Movie 2009


Agenda Kerja Periode 2008/2009
Pelaksanaan Workshop Let's Make Movie.
Tanggal 19, 20,21 Maret 2009.

FINGER KINE KLUB SALATIGA

Welcome to the official Web Blog of FINGER KINE KLUB UKSW.. . Get exclusive content and interact with FINGER KINE KLUB UKSW right from Web Blog. . .


Kelompok Bakat Minat Finger Kine Klub (komunitas film independen) akan mengadakan perekrutan anggota baru periode 2009 – 2010.
Bagi kalian yang berminat bisa menghubungi :

e-mail : finger_kineklub@yahoo.com
HP : 0898 586 72 11 (Lia – Koord. Litbangmas)


Oiya, pendaftaran terbuka bagi civitas akademika, jadi ga terbatas buat anak FE saja.
Ayo buruan daftar, kita tunggu ya..... ^_^
Pendaftaran secara langsung akan di buka di lorong PP Notohamidjojo mulai tanggal 7 September 2009 mulai jam 10 pagi.

Keterangan lebih lanjut mengenai apa itu Finger Kine Klub dan segala kegiatan atau aktivitasnya dapat dilihat di
http://fingerkinesalatiga.blogspot.com/
Penghargaan pada sebuah proses kadang terlupakan begitu saja, perjalanan yang mengalir begitu saja baik dalam kesuksesan maupun kedukaan hanya menjadi cerita atau obrolan warung kopi saja. Kiranya dengan tidak terbang tinggi akibat sebuah kesuksesan dan juga tidak lari dari kenyataan akibat sebuah kegagalan. Sebuah kata yaitu “ Proses” dapat lebih kita maknai dalam perjalanan kita, sehingga apa yang belum ataupun sudah kita raih dapat lebih bermakna.

Sekitar akhir tahun 2002 sekumpulan anak muda bersepakat untuk membuat kegiatan / acara. Ketika masuk dalam tahap pencarian sponsor mereka bertemu dengan pihak sponsor (PT. Djarum) yang diwakili oleh Bp. Handoyo. Lalu terjadilah perbincangan tentang acara yang pada saat itu direncanakan akan dilangsungkan di kampus UKSW. Karena adanya kecocokan dengan pihak sponsor yang kebetulan juga pecinta film maka terjadilah sebuah acara perdana yang diberi nama Friday Night Movie yaitu pemutaran film box office dengan judul “Brootherhood of wolf”.

Menuai kesuksesan diacara pertama membuahkan semangat untuk membentuk sebuah komunitas yang dijadikan sebagai ajang kumpul-kumpul para pecinta film. Akhirnya pada tahun 2003 terbentuklah sebuah Kine klub UKSW yang digawangi oleh Lola R.P bersama kawan-kawan. Berjalannya waktu terjadi banyak perubahan ditubuh Kine klub UKSW, namun karena keinginan yang kuat untuk terus menjalankan sebuah komunitas film, maka Kine klub UKSW tetap berjalan. Kunjungan-kunjungan ke kampus-kampus lain yang notabenya sebagai sarang Kine klub berdiri, sangat bermanfaat sebagai studi banding dan memperluas jaringan sesama komunitas pecinta film.

Menjelang pertengahan tahun 2003 Kine klub UKSW melebur para personelnya dan berganti nama menjadi Finger Kine klub UKSW. Kegiatan berikutnya yaitu pemutaran film “Aku ingin menciummu sekali saja” karya Garin Nugroho yang diputar pada acara Pekan Ilmiah Mahasiswa, menuai kesuksesan yang lebih besar lagi, kapasistas BU UKSW yang hanya 800 orang harus dipaksakan menjadi 1000 orang. Sungguh kesuksessan yang besar bagi Finger Kine klub.

Berakhirnya periode mengakibatkan harus mengalami regenerasi kepengurusan sekitar tahun 2004 awal, kepengurusan Finger Kine klub berpindah tangan kepada Raetundra Bimoadi P. Perubahan yang terjadi dilingkungan Lembaga Kemahasiswaan UKSW sempat mengakibatkan Finger Kine klub tidak mempunyai payung untuk berteduh. Akhirnya terjadilah lobi-lobi antara Finger Kine klub dan Senat Mahasiswa FE UKSW agar bisa saling mendukung dalam menjalankan kegiatannya.

Tepatnya 6 Desember 2003 sebuah ceremony kecil di Banaran Café sebagai persiapan untuk masuk dalam Struktur FE dan juga sebagai hari jadi FINGER Kine Klub dalam FE UKSW. Sekitar September 2004 Finger Kine klub resmi (struktural FE) menjadi sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Finger Kine klub FE UKSW. Layaknya sebuah UKM Finger Kine klub mengikuti Rapat Kerja (Raker) SEMA FE, dan membuat rencana program kerja. Program kerja / kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu “Kupas Finger” (Video Music Josh Groban), “Workshop Belakang Layar”, “Produksi Film (Kopi ½ Gelas)”.

Hingga saat ini Finger Kine klub yang tetap eksis kembali beregenerasi dan dipimpin oleh Rudra untuk menjalankan kembali kegiatan Finger Kine klub selama satu periode, kemudian Rahma memegang kendali organisasi untuk periode selanjutnya, seselesainya Rahma digantikan oleh Felix sebagai ketua Finger periode selanjutnya. Untuk selebihnya tolong di update terus, dengan adanya Blog, Facebook, kiranya dapat bermanfaat sebagai sarana komunikasi&publikasi yang baik. Karena penghargaan pada sebuah proseslah yang kiranya dapat membuat bertahannya Finger Kine klub.

Visi dan Misi Finger Kine klub
Visi : Membentuk sebuah wadah yang dapat menampung para pecinta film dengan kegiatannya.
Misi : Memproduksi karya dalam bidang Sinematografi.





- Bimo Finger -
Perfilman di Indonesia kini semakin maju dan kreatif, beberapa tahun terakhir ini bioskop –bioskop di Indonesia penuh akan orang-orang yang ingin menonton karya anak bangsa ini, semua film yang di sajikan benar-benar menarik dan berkualitas, karena di dalamnya terkandung pesan moral, sosial ,agama,semangat yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat , dan tentu di dalamnya mengandung unsur hiburan. Seperti film yang baru saja dirilis di bioskop yaitu Garuda di Dadaku, dan King.
Kedua film tersebut sangat menginspirasi generasi muda untuk memiliki semangat juang yang tinggi, serta memiliki jiwa kepemimpinan. Di film King misalnya menceritakan tentang seorang anak yang ingin menjadi pebulutangkis seperti tokoh idolanya yaitu Liem Swie King, dengan latihan dan ketekunan yang ulet dan tidak mudah menyerah dia bisa menjadi pebulutangkis yang handal. Begitu pula dengan film Garuda di Dadaku, dimana ada sekumpulan anak yang berlatih sepak bola, dan akhirnya bertanding demi mengharumkan nama Indonesia.
Ini menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia mampu menghasilkan film yang baik dan bermutu. Tetapi di samping itu masih banyak film yang mendapat kontroversi, baik dari segi kualitas maupun isi film tersebut. Dan banyak pula film yang masih menampilkan adegan pornografi, Kekerasan, dsb, film yang dapat merusak moral bangsa kita, karena isi dan judul film yang kurang sesuai maupun judul film yang terlalu vulgar. Sehingga film tersebut kurang layak untuk di konsumsi kita sebagai generasi muda.
Dan kita sebagai generasi muda penerus bangsa sangat berharap film Indonesia ke depannya lebih baik dan bermutu lagi, sehingga dapat memberikan dorongan dan semangat positif bagi kita semua. Karena film adalah pesan/amanat yang ingin disampaikan kepada para penontonnya sehingga harus berpengaruh positif bukan negatif.
Dengan terus menggali ide-ide kreatif dan positif maka akan menghasilkan film yang berkualitas, layak untuk ditonton serta berpengaruh bagi negeri ini. Hidup perfilman Indonesia!!!!!!

By: Lucky

17 Agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita

Ya, hari ini adalah hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mari kita sorakkan, "Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !"

Kali ini, menyambut hari kemerdekaan, kami akan mengupas profil kepemimpinan dalam tubuh Finger Kine Klub dengan nara sumber Ketua Finger Kine Klub periode 2008/2009.

Wanita kelahiran 17 April 1988 ini bernama lengkap Retno Mustikaningtyas yang biasa kami panggil dengan sebutan Mbak Tika. Mbak Tika awalnya mengenal organisasi Finger Kine Klub melalui acara EFD (Economic Family Day) 2006. Dan tanpa berpikir panjang dia langsung tertarik mendaftar sebagai anggota Finger Kine Klub, bisa dibilang seperti cinta pada pandangan pertama. Dan akhirnya diterima sebagai anggota Finger Kine Klub dan sebagai anggota dari angkatan 2006 yang dapat bertahan.

Hingga di akhir Juli 2008, ia dipilih oleh Felix, ketua Finger Kine Klub periode 2007/2008 sebagai ketua Finger Kine Klub periode 2008/2009 dan melanjutkan tugas - tugas sesuai dengan visi dan misi Finger Kine Klub. "Rasanya campur aduk, tapi bangga karena aku dianggap mampu oleh para ketua sebelumnya untuk mengelola Finger Kine Klub selama satu periode and I'll do my best for it", kata Mbak Tika dengan penuh semangat.

Dalam satu periode kepemimpinannya banyak hambatan dan rintangan. Kedudukan nya selain sebagai Ketua Finger Kine Klub dan sebagai mahasiswa FE UKSW jurusan akuntansi, ia juga sebagai Asisten Dosen. Peran nya ini memaksanya menyeimbangkan antara kegiatan kuliah, kegiatan film, dan kegiatan asisten. Namun hal ini tidak membuatnya menyerah begitu saja, seperti kata - katanya dari awal, I'll do my best. Yang akhirnya membuatnya berhasil dari 3 peran sekaligus dalam satu waktu.

Periode 2008/2009 berakhir akhir Juli ini yang ditutup dengan pelantikan ketua baru. Periode berakhir, begitu pula dengan kepemimpinan Mbak Tika dalam Finger Kine Klub. "Lega", kata Mbak Tika. Dia menuturkan, banyak pelajaran berharga yang dia ambil dan banyak hal yang dapat dilakukan di Finger Kine Klub.

Sebenarnya, setelah periode berakhir, ada yang belum bisa ia wujudkan, yakni acara produksi besar. Cita - citanya adalah mempertemukan anak - anak Finger Kine Klub periode pertama hingga periode sekarang untuk melakukan produksi film bersama.

Mengakhiri wawancara, Mbak Tika mengatakan, dia ga akan pernah nyesel masuk Finger Kine Klub, Finger Kine Klub adalah rumah kedua baginya.

Oiya, untuk Banu, ketua Finger Kine Klub periode 2009/2010 dia berpesan, "Ban, jaga keluarga kita, jaga Finger Kine Klub seperti apa yang dilakukan oleh ketua - ketua sebelumnya"

3, 2, 1 and action !!


Beberapa komentar dari teman - teman :

David : "Jadi partner Mbak Tika selama satu periode baik koq, dia selalu mengerjakan tugas yang telah menjadi kewajibannya, sesuai jobdis dan ga menyimpang. Bravo FE Viva UKSW !"

Eka : " Dalam setiap tugas dan pekerjaan ok, tapi kurang deket dan pro aktif sama anak - anak"

Lia : "Salut buat Mbak Tika dan buat semua anak - anak Finger Kine Klub, hargai team work ya karena adanya pemimpin dan team work yang solid kita akan sukses"



Film ‘Merah Putih’ bercerita tentang kehidupan 5 pria di Sekolah Tentara Rakyat setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 1947. Mereka adalah Amir (Lukman Sardi), Marius (Darius), Tomas (Donny Alamsyah), Soerono (Zumi Zola) dan Dayan (Rifnu Wikana). Tujuan mereka satu, menjadi pejuang yang kemerdekaan.

Kehidupan di pemusatan latihan tentara yang keras, membuat mereka harus belajar banyak soal dunia militer. Salah satunya tidak membuat keonaran dan kesalahan yang bodoh, kalau tidak, mereka akan dihukum. Awalnya perbedaan latar belakang suku, agama dan ras membuat beberapa hal tidak berjalan mulus, terutama antara Tomas dan Marius.

Tomas berasal dari keluarga peternak ayam yang bersuku Manado dan beragama Kristen. Sedangkan Marius adalah kaum atas asal Batavia. Alasan mereka pun berbeda untuk menjadi tentara, Tomas lebih berniat karena dia ingin membalas dendam atas ayahnya yang dibunuh tentara Belanda.

Saat itu memang Jepang sudah menyerah, namun Belanda berniat ingin mencaplok Indonesia lagi lewat agresi militernya. Mereka pun bersama tentara lainnya ditugaskan untuk memaksa Belanda mundur lewat pertempuran ‘hidup atau mati’.

‘Merah Putih’ adalah bagian pertama dalam sebuah kisah trilogi yang disutradarai oleh Yadi Sugandi. Dalam penggarapannya, ‘Merah Putih’ dibantu oleh sejumlah kru asing yang biasa mengarap film Hollywood. Diantaranya Adam Howarth, ahli efek khusus yang pernah terlibat dalam pengerjaan film Saving Private Ryan, Blackhawk Down, dan Harry Potter and The Sorcerer’s Stone. Selain itu, ada sutradara bidang laga Rocky McDonald (Mission Impossible II dan The Quiet American), jago make-up dan visual effects artist asal London Rob Trenton (sekuel Batman, The Dark Knight), serta ahli persenjataan asal Australia John Bowring (The Matrix, The Thin Red Line, X Men Origins; Wolverine). Bahkan sampai efek ledakan dan make up-nya dibuat sangat nyata sehingga bisa menggambarkan suasana peperangan. Anda pun bisa berpendapat sendiri bagaimana kualitas film yang berharga Rp 60 miliar.

Lokasi syuting lebih banyak di Bandungan, Ungaran, Jawa Tengah. Sisanya, syuting dilakukan di Jogjakarta, Depok, Bogor, dan Jakarta.

Cerita ‘Merah Putih’ dirasa tepat menjelang HUT RI ke-64 yang bisa kembali mengingatkan penonton akan arti nasionalisme. Tak hanya itu di tengah makin menjamurnya film horor, ‘Merah Putih’ bisa menjada pilihan penikmat film.

‘Merah Putih’ bisa disaksikkan mulai 13 Agustus 2009 di bioskop kesayangan Anda.


source: http://angga.web.id & http://akhdian.net