twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sebuah Persembahan Untuk Budaya Indonesia : Festival Iklan Budaya

Berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya yang selalu mengusung kegiatan workshop filmnya, kali ini KBM Finger Kine Klub mengadakan kegiatan yang berbeda yang dikemas melalui Festival Iklan Budaya dengan tema “Indonesia Mini”. Kegiatan ini mengajak semua mahasiswa FEB UKSW untuk mencintai dan melestarikan budaya Indonesia melalui pembuatan iklan yang berunsur film. Festival Iklan Budaya sendiri terdiri dari dua bagian yaitu kegiatan lomba pembuatan iklan pada tanggal 12 dan 13 Maret 2010 dan Bedah Iklan pada tanggal 26 Maret 2010 di Recital Hall FSP.

Dari awal pendaftaran hingga akhir pendaftaran lomba hanya ada 15 peserta mahasiswa yang tertarik mengikuti lomba yang kemudian oleh panitia dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama, REYSA Production (dengan anggota Arif Eka S., Ade Laksana N,. Reyn M, Yoel A., Stevanny), kelompok kedua De Ones Production (dengan anggota Fanny L., Ivan S., Andre, Sally R. M.), dan kelompok ketiga Loro loro Production (dengan anggota Nico, Tommy, Ayriska, Dewi, Edwin).

Dalam kegiatan lomba pembuatan iklan ini, peserta hanya dituntut untuk menyiapkan sebuah konsep dan mampu mengoperasikan peralatan film. Sebab dengan tujuan menstandardkan peralatan film pada masing – masing kelompok, semua peralatan ketika produksi iklan akan disiapkan oleh panitia.

Dari hasil pembuatan iklan itulah yang nantinya diangkat untuk dibedah dan dinilai oleh juri pada kegiatan Bedah Iklan. Penilaian dilakukan oleh tiga orang juri yang terdiri dari perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang diwakili oleh Bapak Jawardi, kemudian Bapak Sampoerno seorang dosen dari FISKOM, dan Rudra yang merupakan salah satu mantan Ketua Finger Kine Klub.
Komentar pedas selalu datang dari para juri terhadap semua kelompok baik kelompok REYSA yang menampilkan iklan budayanya melalui karawitan, kelompok De Ones melalui Burger vs. Arem – arem nya, maupun kelompok Loro – loro melalui Batik nya. Mulai dari segi konsep, teknis, hingga filosofi dan sisi komunikasi iklan semuanya dikupas saat sesi penjurian dan diskusi. Walaupun begitu para juri juga memberikan saran yang positif bagi ketiga kelompok tersebut.

Hadir juga sebagai peserta bedah iklan Bapak Hermawan yang merupakan salah satu dosen TI-DKV. Pada setiap sesi diskusi ia selalu menyempatkan diri utuk memberikan komentar.”Yang membuat saya menggelitik dan yang saya ingin tanyakan dari tadi. Apakah iklan tersebut di buat on the spot atau dengan konsep yang matang sesuai dengan aturannya mulai dari pembuatan tema, sinopsis, treatment, story board, shooting script, breakdownscript, hingga survei tempat dan penataan atau setting tempat?” pertanyaan terakhir Bapak Hermawan yang menutup sesi diskusi.
Menanggapi pertanyaan dari Bapak Hermawan, Eka Junis S., selaku panitia sekaligus koordinator divisi produksi Finger Kine Klub menjelaskan, “Menanggapi pertanyaan Bapak Hermawan, sebagian besar peserta yang mengikuti lomba pembuatan iklan tidak mempunyai background film sehingga mereka tidak mengetahui secara detail mulai dari bagaimana pembuatan konsep, script – script, hingga keahlian pemakaian peralatan, selain itu juga panitia dan anggota Finger Kine Klub yang berada ketika pembuatan iklan dilarang membantu atau memberitahu atau memberi saran sebab ditakutkan akan mempengaruhi kualitas hasil produksi”.

Manfaat yang secara nyata diperoleh oleh peserta bedah iklan adalah ketika sesi diskusi. Selain kita diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat kita mengenai iklan yang dibedah, kita juga memperoleh banyak pengetahuan mulai dari pembuatan konsep, teknis pembuatan iklan, apa itu iklan dan bagaimana membuat iklan yang baik dan menjual, hingga dari sisi budaya Indonesia yang diangkat.

Acara ditutup dengan penyerahan piagam dan hadiah uang tunai kepada kelompok REYSA Production yang telah berhasil menjadi pemenang pertama.(Lia-red).

0 comments:

 

Search This Blog

End Wellcome

Selamat Datang di Situs Latihan Finger Kine Klub

Translate

Total Tayangan Halaman