twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

INFO KEGIATAN FINGER: SAFFEST (SALATIGA FILM FESTIVAL)

Jenis Film :Drama
Produser :Naynie Ardiansyah, Iwan Trilaksana Sp
Produksi :Nayakom Mediatama, Merauke Ent. Production
Durasi :100

Cast & Crew Pemain :
Fanny Fabriani
Fauzi Baadilla
Piet Pagau
Didi Petet
Edo Borne
Petrus Taro Gerze

Sutradara :
Irhamachobahtiar

Penulis :
Ace Arca
Augit Prima


Kegiatan terbaru Finger Kine Klub Salatiga, SAFFEST, Menampilkan pemutaran film "Lost In Papua". Sebuah film bergenre drama yang berkisahkan akan sebuah perjalanan menyusuri hutan di sebuah pedalaman bagian Timur Indonesia.

Film berdurasi 110 menit tersebut menganbil setting langsung suasana alam dan pedalaman di Papua, Irian Jaya, yang sangat lengkap dengan beberapa pemainnya merupakan anak-anak asli dari Papua.

Film yang disutradarai oleh Irhamachobahtiar dengan menggandeng Nayakom Mediatama dan Merauke Entertainment Production tersebut menggaet sejumlah pemain-pemain yang telah ternama seperti Fanny Fabriani, Fauzi Baadilla, Piet Pagau, Didi Petet, Edo Borne, dan Petrus Taro Gerze, bercerita tentang hilangnya Rangga (Edo Borne) beserta timnya saat menjalankan sebuah misi eksplorasi mencari titik tambang di pedalaman Papua, Irian Jaya.

Tanpa mereka sadari, mereka telah memasuki wilayah terlarang yang dikenal dengan sebutan RKT 2.000. walhasil petaka akhirnya menghampiri mereka dan satu-persatu anggota mereka hilang tanpa bekas di dalam hutan belantara.

Selang beberapa tahun kemudian Nadia (Fanny Fabriana), mantan tunangan Rangga,mendapatkan tugas dari pimpinannya, Pak Wijaya (Didi Petet),untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh tunangannya yang hilang tersebut.

Namun sisi lain David (Fauzi Badillah) yang juga anak Pak Wijaya (bos Nadia) masih sangat menyukai dan terus mengejar-ngejar Nadia dengan segala cara. Namun tak menghiraukan David dan mencoba menjauhinya dengan menerima tugas ke Papua yang diberikan oleh bosnya, Pak Wijaya (Didi Petet).

Akhirnya berangkatlah Nadia ke Papua dengan membawa sebuah titipan cinderamata dari kakeknya (Piet Pagau) untuk kepala suku Korowai yang pernah menyelamatkan nyawanya di masa perjuangan lalu. Nadia yang baru pertama kali datang ke Papua, jatuh cinta dengan keindahan alamnya. Namun di balik itu, misteri hilangnya Rangga masih terus membayangi Nadia.

Perjalanan menuju suku Korowai tidaklah mudah, Nadia bersama teman-temannya harus melewati rintangan yang cukup berat. Dalam keputus-asaan, mereka menemukan sebuah perkampungan suku primitif yang semua penghuninya perempuan. Di suku inilah, Nadia mengetahui kalau Rangga tiga tahun lalu pernah ditangkap oleh suku ini.

Tertarik nonton film ini ??? Dapat sertifikat dan poin lho....
Acaranya tanggal 2 Mei 2011 jam 17.00 - selesai.
HTM Rp. 10.000.
Terbuka untuk umum.
Pendaftaran peserta udah mulai dibuka tanggal 11 april 2011 jam 09.00- 14.00 di:
- Selasar PP
- Depan gedung fiskom,
- Depan LK
- Depan Gedung F

Mengintip Hubungan Pemerintah dengan Perfilman di Luar Negeri

Dunia semakin berkembang, begitu pula para anak muda pencinta film dalam mengapresiasikan dirinya dalam dunia film semakun hari semakin marak dan penuh dengan kejutan. Akhir-akhir ini banyak perdebatan mengenai pengenaan pajak royalti untuk film impor. Nah, untuk para sineas Indonesia, mari kita memahami untuk dapat bahan pertimbangan mengenai hubungan pemerintah dengan perfilman di Luar Negeri.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa para pelaku perfilman di Indonesia mengungkapkan sebuah harapan dan keinginan yang besar kepada pemerintah untuk dapat mengembangkan kemajuan dan kualitas film di Indonesia. Salah satunya adalah dengan pembagian komisi dari pajak film yang dipungut selama ini.

Sineas dan Sutradara Film Rumah Tanpa Jendela, Aditya Gumay mengatakan selama ini belum pernah ada penjelasan tentang besaran pajak dalam pemutaran film, maupun bea masuk yang dapat membawa keuntungan bagi industri film Indonesia. Keuntungan yang dimaksudkan adalah dimana pemerintah dapat memberikan suntikan modal atau subsidi dalam industri film Indonesia. Padahal kalau bisa dihitung pendapatan keuntungan dari film impor/asing diberikan beberapa persen dalam industri perfilman Indonesia dapat menghasilkan sebuah laboratorium film di Indonesia, dan bahkan lebih meningkatkan kualitas dalam memproduksi film agar tidak kalah jual dengan hasil-hasil dari Hollywood.

Mari kita intip hubungan pemerintah Turki dengan dunia industri perfilman. Memang kita dapat melihat bahwa industri perfilman di Turki bisa dikatakan manja. Tapi itu dapat meningkatkan kualitas perfilman Turki. Bayangkan saja kecintaan pemerintah Turki yang memberikan suntikan modal bagi industri film yang berkualitas. Dan bahkan, jika laku keras, maka utang atau pembayaran pajak produksi dalam negeri akan dianggap lunas. Satu lagi perlakuan pemerintah Turki yang dapat membuat industri perfilman Indonesia cemburu adalah dengan mendapatkan penghargaan di festival, maka utang itu dihapuskan, atau bisa dicicil bahkan dikurangi.

Pertanyaan sekarang apakah pemerintah Indonesia bisa membantu industri perfilman seperti halnya pemerintah di Turki?

Tapi mari kita lihat dulu realitas selera pasar terhadap industri perfilman Indonesia. Misalnya saja dalam produksi film untuk mendapatkan pinjaman modal. Ternyata selama ini kualitas film Indonesia untuk film horor, paling banyak meraih 500 ribu penonton. Sedangkan film lain yang booming, seperti Laskar Pelangi atau Ketika Cinta Bertasbih dan bahkan film-film "berkualitas yang berjiwa sosial tinggi" bisa mencapai 3 - 4 juta penonton. Intinya penonton menunggu film yang berkualitas.

Jadi dapat disimpulkan dengan memenuhi selera masyarakat yang akan meningkatkan pendapatan pemerintah dapat membantu industri perfilman dalam memenuhi harapan mereka.
 

Search This Blog

End Wellcome

Selamat Datang di Situs Latihan Finger Kine Klub

Translate

Total Tayangan Halaman