Animasi
merupakan sutu teknik yang banyak sekali dipakai di dalam dunia film dewasa
ini, baik sebagai suatu kesatuan yang utuh, bagian dari suatu film, maupun
bersatu dengan film live. Dunia film sebetulnya berakar dari fotografi,
sedangkan animasi berakar dari dunia gambar, yaitu ilustrasi desain grafis
(desain komunikasi visual). Melalui sejarahnya masing-masing, baik fotografi
maupun ilustrasi mendapat dimensi dan wujud baru di dalam film live dan
animasi.
Asal Mula Teknik Film Animasi
Keinginan
manusia untuk membuat gambar atau santiran (image) yang hidup dan bergerak
sebagai pantara dari pengungkapan (expression) mereka, merupakan perwujudan
dari bentuk dasar animasi yang hidup berkembang. Kata animasi itu sendiri
sebenarnya penyesuaian dari kata animation, yang berasal dari kata dasar to animate,
dalam kamus umum Inggris-Indonesia berarti menghidupkan (Wojowasito 1997).
Secara umum animasi merupakan suatu kegiatan menghidupkan, menggerakkan benda
mati; Suatu benda mati diberikan dorongan kekuatan, semangat dan emosi untuk
menjadi hidup dan bergerak, atau hanya berkesan hidup.
Orang
Mesir kuno menghidupkan gambar mereka dengan urutan gambar-gambar para pegulat
yang sedang bergumul, sebagai dekorasi dinding. Dibuat sekitar tahun 2000
sebelum Masehi (Thomas 1958:8)
Lukisan
Jepang kuno memperlihatkan suatu alur cerita yang hidup, dengan menggelarkan
gulungan lukisan, dibuat pada masa Heian(794-1192) (ensiklopedi Americana
volume 19, 1976). Kemudian muncul mainan yang disebut Thaumatrope sekitar abad
ke 19 di Eropa, berupa lembaran cakram karton tebal, bergambar burung dalam
sangkar, yang kedua sisi kiri kanannya diikat seutas tali, bila dipilin dengan
tangan akan memberikan santir gambar burung itu bergerak (Laybourne 1978:18).
Hingga
di tahun 1880-an, Jean Marey menggunakan alat potret beruntun merekam secara
terus menerus gerak terbang burung, berbagai kegiatan manusia dan binatang
lainnya. Sebuah alat yang menjadi cikal bakal kamera film hidup yang berkembang
sampai saat ini. Dan di tahun 1892, Emile Reynauld mengembangkan mainan gambar
animasi ayng disebut Praxinoscope, berupa rangkaian ratusan gambar animasi yang
diputar dan diproyeksikan pada sebuah cermin menjadi suatu gerak film, sebuah
alat cikal bakal proyektor pada bioskop (Laybourne 1978:23).
Kedua
pemula pembuat film bioskop, berasal dari Perancis ini,dianggapsebagai pembuka
awal dari perkembangan teknik film animasi(Ensiklopedi AmericanavoLV1,1976:740)
Sepuluh
tahun kemudian setelah film hidup maju dengan pesat-nya di akhir abad ke 19. Di
tahun 1908, Emile Cohl pemula dari Perancis membuat film animasi sederhana berupa
figure batang korek api. Rangkaian gambar-gambar blabar hitam(black-line)
dibuat di atas lembaran putih, dipotret dengan film negative sehingga yang
terlihat figur menjadi putih dan latar belakang menjadi hitam.
Sedangkan
di Amerika Serikat Winsor McCay (lihat gambar disamping) membuat film animasi
“Gertie the Dinosaur” pada tahun 1909. Figur digambar blabar hitam dengan latar
belakang putih. Menyusul di tahun-tahun berikutnya para animator Amerika mulai
mengembangkan teknik film animasi di sekitar tahun 1913 sampai pada awal tahun
1920-an; Max Fleischer mengembangkan “Ko Ko The Clown” dan Pat Sullivan membuat
“Felix The Cat”. Rangkaian gambar-gambar dibuat sesederhana mungkin, di mana
figure digambar blabar hitam atau bayangan hitam bersatu dengan latar belakang
blabar dasar hitam atau dibuat sebaliknya. McCay membuat rumusan film dengan
perhitungan waktu, 16 kali gambar dalam tiap detik gerakan.
Fleischer
dan Sullivan telah memanfaatkan teknik animasi sell, yaitu lembaran tembus
pandang dari bahan seluloid (celluloid) yang disebut “cell”. Pemula lainnya di
Jerman, Lotte Reineger, di tahun 1919 mengembangkan film animasi bayangan, dan
Bertosch dari Perancis, di tahun 1930 membuat percobaan film animasi potongan
dengan figure yang berasal dari potongan-potongan kayu. Gambar berikut adalah
tokoh “Gertie The Dinosaurs”, dan “Felix the Cat”
George
Pal memulai menggunakan boneka sebagai figure dalam film animasi pendeknya,
pada tahun 1934 di Belanda. Dan Alexsander Ptushko dari Rusia membuat film
animasi boneka panjang “The New Gulliver” di tahun 1935.
Di
tahun 1935 Len Lye dari Canada, memulai menggambar langsung pada film setelah
memasuki pembaharuan dalam film berwarna melalui film”Colour of Box”.
Perkembangan Teknik film animasi yang terpenting, yaitu di sekitar tahun
1930-an. Dimana muncul film animasi bersuara yang dirintis oleh Walt Disney
dari Amerika Serikat, melalui film”Mickey Mouse”, “Donald Duck” dan ” Silly
Symphony” yang dibuat selama tahun 1928 sampai 1940.
Pada
tahun 1931 Disney membuat film animasi warna pertama dalam filmnya “Flower and
Trees”. Dan film animasi kartun panjang pertama dibuat Disney pada tahun 1938,
yaitu film “Snow White and Seven Dwarfs”.
Demikian
asal mula perkembangan teknik film animasi yang terus berkembang dengan gaya
dan ciri khas masing-masing pembuat di berbagai Negara di eropa, di Amerika dan
merembet sampai negaranegara di Asia. Terutama di Jepang, film kartun
berkembang cukup pesat di sana, hingga pada dekade tahun ini menguasai pasaran
film animasi kartun di sini dengan ciri dan gayanya yang khas.
Beberapa Jenis Teknik Film Animasi
Berdasarkan
materi atau bahan dasar obyek animasi yang dipakai, secara umum jenis teknik
film animasi digolongkan dua bagian besar, film animasi dwi-matra (flat
animation) dan film animasi trimatra(object animation).
Film animasi Dwi-matra (flat animation)
Jenis
film animasi ini seluruhnya menggunakan bahan papar yang dapat digambar di atas
permukaannya. Disebut juga jenis film animasi gambar, sebab hamper semua obyek
animasinya melalui runtun kerja gambar. Semua runtun kerja jenis film animasi
ini dikerjakan di atas bidang datar atau papar.
Beberapa jenis film animasi dwi-matra adalah:
a.
Film animasi sel(Cel Technique)
Jenis
film animasi ini merupakan teknik dasar dari film animasi kartun (cartoon
animation). Teknik animasi ini memanfaatkan serangkaian gambar yang dibuat di
atas lembaran plastic tembus pandang, disebut sel.
Figur
animasi digambar sendiri-sendiri di atas sel untuk tiap perubahan gambar yang
bergerak, selain itu ada bagian yang diam, yaitu latar belakang (background),
dibuat untuk tiap adegan, digambar memanjang lebih besar daripada lembaran sel.
Lembaran
sel dan latar diberi lobang pada salah satu sisinya, untuk dudukan standar page
pada meja animator sewaktu di gambar, dan meja dudukan sewaktu dipotret.
b.
Penggambaran langsung pada film
Tidak
seperti pada film animasi lainnya, jenis film animasi ini menggunakan teknik
penggambaran obyek animasi dibuat langsung pada pita seluloid baik positif atau
negative, tanpa melalui runtun pemotretan kamera stop frame, untuk suatu
kebutuhan karya seni yang bersifat pengungkapan. Atau yang bersifat percobaan,
mencari sesuatu yang baru.
Film Animasi Tri-matra (Object Animation)
Secara
keseluruhan, jenis film animasi tri-matra menggunakan teknik runtun kerja yang
sama dengan jenis film animasi dwi-matra, bedanya obyek animasi yang dipakai
dalam wujud tri-matra. Dengan memperhitungkan karakter obyek animasi, sifat
bahan yang dipakai, waktu, cahaya dan ruang.
Untuk
mengerakkan benda tri-matra, walaupun itu mungkin, tapi cukup sulit untuk
melaksanakannya, karena sifat bahan yang dipakai mempunyai ruang gerak yang
terbatas. Tidak seperti jenis., film animasi gambar, bebas melakukanberbagai
gerakan yang diinginkan.
Berdasarkan
bentuk dan bahan yang digunakan, termasuk dalam jenis film animasi ini adalah :
a.
Film Animasi Boneka (Puppet Animation)
Obyek
animasi yang dipakai dalam jenis film animasi ini adalah boneka dan figur
lainnya, merupakan penyederhanaan dari bentuk alam benda yang ada, terbuat dari
bahan-bahan yang mempunyai sifat lentuk (plastik) dan mudah untuk digerakkan
sewaktu melakukan pemotretan bingkai per bingkai, seperti bahan kayu yang mudah
ditatah atau diukir, kain, kertas, lilin, tanah lempung dan lain-lain, untuk
dapat menciptakan karakter yang tidak kaku dan terlalu sederhana.
b.
Film Animasi Model
Obyek
animasi tri-matra dalam jenis film ini berupa macammacam bentuk animasi ayng
bukan boneka dan sejenisnya, seperti bentuk-bentuk abstark; balok, bola,
prisma, piramida, silinder, kerucut dan lain-lain. Atau bentuk model,
percontohan bentuk dari ukuran sebenarnya, seperti bentuk molekul dalam senyawa
kimia, bola bumi.
Bentuk
obyek animasi sederhana, penggunaannya pun tidak terlalu rumit dan tidak banyak
membutuhkan gerak, bahan yang dipakai terdiri dari kayu, plastic keras dan
bahan keras lainnya yang sesuai denga sifat karakter materi yang dimiliki,
tetapi tidak berarti bahan lentuk tidak dipakai.
Disebut
juga film animasi non-figur, karena keseluruhan cerita tidak membutuhkan tokoh
atau figure lainnya. Jenis film Teknik yang memanfaatkan lembaran sel merupakan
suatu pertimbangan penghematan gambar, dengan memisahkan bagian dari obyek
animasi yang bergerak, dibuat beberapa gambar sesuai kebutuhan; dan bagian yang
tidak bergerak, cukup dibuat sekali saja.
c.
Film Animasi Potongan (Cut-out Animation)
Jenis
film animasi ini, termasuk penggunaan teknik yang sederhana dan mudah. Figur
atau obyek animasi dirancang, digambar pada lembaran kertas lalu dipotong
sesuai dengan bentuk yang telah dibuat, dan diletakkan pada sebuah bidang datar
sebagai latar belakangnya. Pemotretan dilakukan dengan menganalisis langsung
tiap gerakan dengan tangan, sesuai denagn tuntutan cerita.
Dengan
teknik yang sederhana, gerak figur atau obyek animasi menjadi terbatas sehingga
karakternyapun terbatas pula. Karakter figur dibuat terpisah, biasanya, terdiri
dari tujuh bagian yang berbeda; kepala, leher, badan, dua tangan dan dua kaki.
Untuk menggerakkan dan menghidupkan karakter, pemisahan itu bias disesuaikan
dengan tuntutan cerita, bisa dibuat kurang dari bagian tadi atau lebih.
d.
Film Animasi Bayangan (Silhoutte Animation)
Seperti
halnya pertunjukan wayang kulit, jenis film animasi ini menggunakan cara yang
hampir sama, figur atau obyek animasi berupa bayangan dengan latar belakang
yang terang, karena pencahayaannya berada di belakang layer.
Teknik
yang dipakai sama dengan film animasi potongan, yaitu figur digambar lalu
dipotong sesuai dengan bentuk yang digambar dan diletakkan pada latar di meja
dudukan kamera untuk dipotret. Bedanya di sini, kertas yang dipakai tidak
seperti animasi potongan, bahan kertas berwarna atau diberi warna sesuai dengan
kebutuhan, sedangkan film animasi bayangan seluruhnya menggunakan bahan kertas
berwarna gelap atau warna hitam, baik itu figur atau obyek animasi lainnya.
e.
Film Animasi Kolase (Collage Animation)
Yang
selalu berhubungan dengan jenis film animasi ini adalah sebuah teknik yang
bebas mengembangkan keinginan kita untuk menggerakkan obyek animasi semaunya di
meja dudukan kamera. Teknik cukup sederhana dan mudah dengan beberapa bahan
yang bisa dipakai; potongan Koran, potret, gambar-gambar, huruf atau
penggabungan dari semuanya. Gambar dan berbagai bahan yang dipakai, disusun
sedemikian rupa lalu dirubah secara berangsurangsur menjadi bentuk susunan
baru, dimana tiap perubahan penempelan dipotret dengan kamera menjadi suatu
bentuk film animasi yang bebas.
Software Pembuat Animasi
Software
Animasi 2 Dimensi:
Macromedia
Flash, CoRETAS, Corel R.A.V.E., After Effects, Moho, CreaToon, ToonBoom,
Autodesk Animaton (1990-an) dll
Software
Animasi 3 Dimensi:
Maya,
3D Studio Max, Maxon Cinema 4 D, LightWave, Softlmage, Poser, Motion Builder,
Hash Animation Master, Wings 3D, Carrara, Infini-D, Canoma d
(lit12t)







0 comments:
Posting Komentar