FILM DAN DEMOKRASI
Tentang
film layar
lebar, selera konsumen, dan ekspansi antar budaya kian marak dibicarakan
mengenai persepsi banyak orang saat ini. Persepsi tentang tokoh dunia
metafisika, disinema yang diproduksi
oleh manusia di belahan bumi utara yang berbeda dengan di belahan bumi
selatan mulai dari genre atau jenis film yang diproduksi, pemilihan
judul dan lain sebagainya
"Demokrasi tetaplah berdasarkan kedaulatan rakyat, bukan
kedaulatan partai. Jadi, demokrasi, di dalam dirinya, memiliki imperatif
metapolitik untuk menjamin kedaulatan warganegara.Problem ini
menghasilkan konsensus: demokrasi bukan ideal "terbaik" pengaturan politik, tetapi itu yang "termungkin" untuk menjamin kesetaraan hak dan kebebasan warganegara."
Membangun kedewasaan kolektif tidaklah mudah, seringkali kita merasa
nampak tidak pantas, karena saling bunuh dan cerca satu
sama lain, tapi ada kalanya mulai sadar bahwa konflik itu ternyata tak
ada gunanya. Ada masanya ketika selangkangan dan dada implan nampak
menjadi tren, tetapi ada masanya juga ketika secara kolektif, mayoritas
warga menganggap hal tersebut tidak bermoral. Selain soal kebebasan,
maka kedewasaan selalu menyandingkan antara hak dan kewajiban, serta kebebasan dan tanggung jawab! Butuh waktu dan usaha terus menerus untuk saling menasehati satu sama lain, dan itu manusiawi.
Inilah
demokrasi di ruang perfilman nasional, ada suplai dan deman, ada yang
mau menambahkan judul- Dan inilah yang menjadi tren para pembuat film
saat ini sangat diberikan kebebasan namun bertanggung jawab akan akhir
dari proses yang melibatkan banyak orang. Masyarakat bisa terprovokasi
dengan film yang kurang bisa dicerna dengan baik maksud atau nilau yang
sepantasnya dalam film, sehingga tugas dari para pembuat film untuk
lebih menyadari akan risiko suatu pilihan yang demokratis..







0 comments:
Posting Komentar