twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

FILM DOKUMENTER " BATIK, OUR LOVE STORY"



Membatik merupakan keahlian turun temurun. Begitu juga yang dialami oleh Widianti Widjaja. Wanita keturunan Tionghoa itu mewarisi beberapa pekerjaan batik yang belum diselesaikan oleh mendiang ayahnya. Awalnya dia sempat kesulitan, namun akhirnya batik benar-benar membuatnya jatuh cinta. Oleh karena itu sebisa mungkin dia membatik.
Untuk mengerjakan selembar kain batik dengan motif tertentu, dibutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan kadang lebih dari setahun. Dalam film digambarkan bahwa dia menggunakan tangannya sendiri (tanpa sarung tangan) saat proses pengobatan untuk mewarnai kain batik. Padahal obat batik itu kadang membuat alergi pada kulit yang sensitif.
“Saya nggak pakai sarung tangan untuk melihat kelendiran dari obatnya,” ujar  Widianti dalam sebuah adegan di film ‘Batik, Our Love Story’.
Perjalanan berlanjut ke Cirebon yang sangat terkenal dengan motif Mega Mendung-nya. Dari Cirebon, kisah mengarah ke Madura yang terkenal dengan batik berwarna cerah seperti warna merah.
Layar pun berganti ke kota Jogja, lagi-lagi tembang milik Hip Hop Diningrat terdengar. Tembang yang dipakai kali ini adalah ‘Jogja Istimewa’. Nia mencoba untuk menampilkan batik yang juga dipakai oleh warga keraton. Beberapa koleksi batik yang terdapat di Museum Batik Jogja mungkin akan membuat Anda berdecak kagum mengingat usianya yang sudah ratusan tahun.
Setelah itu, kediaman Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian), juragan batik Sekar Kencana sekaligus tokoh Lasem menjadi tujuan Nia Dinata. Dengan fasih, lelaki yang usianya lebih dari 80 tahun itu bercerita tentang berbagai motif batik dan asal mulanya.
Didampingi oleh istrinya, Marpat Rochani, dia bercerita bahwa usaha batik itu adalah warisan sang ayah, Njo Wat Jiang. Lasem mengalami masa keemasan batik ketika kota ini masuk lima besar kota batik di Indonesia bersama Pekalongan, Yogyakarta, Surakarta, dan Banyumas. Industri batik Lasem hilang karena bahan untuk membatik hilang di pasaran. Impor susah sementara kain, malam (lilin) dan pewarna tidak ada.
Di akhir cerita, tampak beberapa anak kecil sedang dilatih untuk membatik. Mereka dilatih oleh pemilik Sanggar Jeruk Srikandi, Lasem. Dari beberapa kisah yang terekam dalam dokumenter ‘Batik, Our Love Story’ terungkap bahwa mereka, para pekerja batik ini hidupnya masih memprihatinkan. Usaha keras mereka untuk mempertahankan batik tergambar dalam film berdurasi 70 menit ini.
Film ‘Batik, Our Love Story’ dirilis menjelang hari batik yang jatuh pada 2 Oktober. Sayangnya film dokumenter itu tidak diputar di bioskop. Sebagai gantinya, film 'Batik, Our Love Story' itu bisa ditonton gratis dengan cara menghubungi pihak Kalyana Shira Foundation yang dipimpin oleh Nia. 

0 comments:

 

Search This Blog

End Wellcome

Selamat Datang di Situs Latihan Finger Kine Klub

Translate

Total Tayangan Halaman