Film yang bercerita tentang kehidupan
cinta 2 sejoli muda yang tidak bisa menyatukan hati karena terbentur oleh Tuhan
mereka yang "berlainan" adalah sekeping bagian dari cerita cinta anak di Indonesia. Cerita para anak muda yang ingin berkreasi dan yang
masih mau menjunjung pola pikir orang tua mereka harus mengorbankan perasaan
mereka demi "menjaga" dan "memelihara" adat istiadat serta
agama masing-masing. Hal itulah yang tidak bisa saling mengalah sehingga menciptakan
suatu perbedaan dapat menjadi suatu masalah.
Cin(T)a,
adalah film bertemakan cinta segitiga antara seorang mahasiswi yang pendiam bernama Annisa
(Saira Jihan) 24 tahun, artis cantik yang melalaikan kuliah demi
kariernya, bertemu dengan mahasiswa baru bernama Cina (Sunny Soon) 18 tahun keturunan
cina-batak yang penuh tekad mengapai impianya. Disaat jari jemari cinta mereka yang
saling berpegangan tangan, munculah jemari ketiga, jemari yang masuk memberikan sebuah pegangan cinta
yang tulus, hangat, damai, dan abadi. Jemari cinta dari Tuhan. Tuhan mencintai Cina dan Annisa,
tapi Cina dan Annisa tidak dapat saling mencintai karena mereka menyebut Tuhan
dengan nama yang berbeda.
Film garapan komunitas indie dengan sutradara muda Sammaria Simanjuntak (24
tahun) ini memenangkan "Piala Citra untuk Skenario Asli Terbaik" bersama dengan Sally Anom Sari. Rancangan karakter, setting, dan dialog yang dibuat sederhana
tapi mengusik kesadaran masyarakat Indonesia ini menampilkan dialog-dialog yang cukup berat, sangat menantang, berani dan sensitive dengan agama merangkaikan sebuah film dengan warna yang unik dan beda bahkan menyisipkan simbol-simbol yang berkaitan dengan
nasionalisme ataupun kebudayaan Indonesia. Film ini yang menggunakan dua konsep sinematorafi; Pertama, Sammaria meletakkan penonton pada ‘sudut pandang’ Tuhan, karena keberadaan-Nya
sangat subjektif pada setiap orang dengan huruf T yang terselip di antara kata Cin(T)a, merujuk pada
Tuhan. Kedua, Sammaria menggunakan konsep dunia hanya milik berdua, dengan dua karakter Cina dan Annisa yang mendominan, namun dikemas secara kreatif dilihat
dari fokus kamera
yang disorot secara close-up sehingga penonton
melihat lebih ke ekspresi dan emosi dan fokus pada objek-objek seperti jari,
semut, apel, dan lain sebagainya. Disisi lain kedua tokoh utama nampaknya butuh kerja keras agar akting
mereka tidak terlihat kaku dan datar.
Dibalik itu semua pengambilan adegan
ini diperkuat dengan musik, latar, serta dialog-dialog yang bukan hanya berani menantang melaikan juga dapat mengalir, cerdas,
lucu menjadi kekuatan utama dari film ini. Walaupun tanpa diduga dialog yang “suram”
dan melankolis muncul diakhir-akhir cerita, tapi tetap mengena dengan banyaknya pesan moral yang terlukis dalam film ini. Hubungan untuk selalu menjaga kerukunan
antar umat beragama dan jangan mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin
menghancurkan dengan mengatasnamakan agama menjadi tema yang menantang yang membuat penonton mempunyai persepsi berbeda-beda
yang selama ini dianggap tabu dapat dihadirkan ke ranah publik dengan segala
pro dan kontranya berhasil membawa pesan damai.
Film yang mengisahkan tentang dua sejoli yang mengatasnamakan
cintanya lebih besar kepada Tuhannya masing-masing ini, patut diancungi jempol mulai
dari ide cerita sampai pada proses penayangannya yang sempat mendapat larangan penayangan namun berhasil melewati ujian dari tantangan itu. Kalau film ini sempat ditayangkan di luar negeri seperti Inggris-National Film Theater-British, London-Film Institute London 2009, Australia-Indonesia Film Festival 2009 di Melbourne, maka masyarakat Indonesia juga harus menonton film produksi 2009 yang pantas untuk dipertimbangan sebagai
bahan pembelajaran ditengah masyarakat multicultural seperti Indonesia. (_Ђ_)








0 comments:
Posting Komentar