twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Lost In Papua di Salatiga

Riuh penonton mewarnai Balairung Universitas Universitas Kristen Satya Wacana seiring diputarnya film Lost in Papua dalam Salatiga Film Festival (SafFest), Senin(2/05) petang. Acara nonton bareng sekaligus bedah film yang digelar oleh Finger Kine Klub Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini mendatangkan Irham Acho Bahtiar sebagai pembicara sekaligus Sutradara Film ini. Ratusan penonton memadati Balairung semalam, salah satunya Koordinator Bidang Kemahasiswaan FEB, Albert Kristian NAN, SE., MM.
Lost in Papua dipilih merujuk pada tema yang diusung yakni berkaitan dengan budaya dan lingkungan. Selain itu film ini masih tergolong baru karena diluncurkan pada akhir bulan Maret lalu. Selain itu, pergelaran acara ini tidak lepas dari adanya kerjasama Panitia dengan Production House sendiri yakni Nayacom Mediatama.
Film ini mengisahkan tentang perjuangan seorang pria bernama Rangga (Edo Borne) yang hilang dipedalaman Papua saat mencari titik tambang di pedalaman papua. Beberapa tahun kemudian, kekasih Rangga, Nadia (Fanny Fabriana) mendapatkan tugas serupa. Lalu datanglah David (Fauzi Baadilah), pria yang selalu mengejar Nadia dan mengacaukan segalanya. Petualangan Nadia dan kawan-kawan untuk bertahan hidup dan bertemu dengan suku-suku di Papua membuat penonton menahan nafas.
Dikatakan Irham, untuk pembuatan film ini 50% kru-nya berasal dari Papua. “Sebenarnya kami membuat film ini berdasarkan mitos dan legenda yang ada di papua sendiri. Awalnya mitos ini ada dan ditutupi. Dengan adanya film ini kami ingin memperlihatkan kenyataan yang ada di Papua yang tidak pernah dilihat oleh penonton sebelumnya,” papar Irham.
Bagaimana tanggapan penonton untuk film yang dibintangi oleh Fanny Fabriana dan Fauzi Baadilah yang menghabiskan waktu 25 hari untuk proses pengambilan gambar ini?  Corry salah seorang mahasiswi FEB 2010 ini mengaku tertarik untuk menonton karena penasaran dengan judulnya. “Penasaran apa yang akan terjadi di Papua nanti. Ternyata filmnya cukup menegangkan dan membuat adrenalin teruji,” tuturnya. Hal senada juga diungkapkan Debora, mahasiswi Fakultas Psikologi. “Awalnya penasaran, ini film tentang budaya atau apa. Dan ternyata filmnya sangat-sangat bagus dan pelajaranpun bisa diambil yakni setiap orang bisa berdamai atau tidak itu tergantung dari pribadi masing-masing orang," katanya.

Pada akhir acara, pihak panitia dan Production House sendiri yakni Nayacom Mediatama saling bertukar kenang-kenangan. Dhimas berharap dengan digelarnya acara seperti ini berharap perfilman Indonesia semakin maju, khususnya di kota Salatiga. “Sehingga perfilman di kota Salatiga dapat berkembang dengan pesat dan dapat menjadikan kota Salatiga lebih dikenal di luar sana,” ungkapnya. (yen_jk/upk_bphl).

 sumber

Nobar & Diskusi film Lost In Papua

Nih dia kegiatan kita dibulan Mei



Briefing panitia, di Pimpin Ketua 
Finger Kine Klub. Luar biasa 
semangat panitia pada waktu itu
gak kerasa, penonton mulai berdatangan....




semakin malam penonton semakin banyak, panitia sempat kerepotan mengontrol peserta. Salut deh buat sie. keamanan yg kerja pada waktu itu


kami sendiri gak nyaka antusias penonton bakalan seperti ini.
acara ini juga dijadiin kesempatan buat para penonton yg lagi PeDekate.hahaha

nah!! yg sebelah kiri itu namanya mbak ifa dari PH Nayacom Mediatama
klo yang kanan itu ketua panitianya namanya dimas...
yang ditengah sutradaranya sebut saja bang aco 


 moment ini juga gak disia-siain sama panitia buat foto-foto bareng...
kalian memang luar biasa. Thx dah bantuin Finger Kine Klub

ini dia nih spesialis antar jemputnya mbak ifa sama bang aco...
krna semalam g bisa ikutan foto, mereka lampiasin dibandara. hahaha

 

foto-foto lain ada disini. capek boy kalo semuanya diposting dimari... hehe

 

Search This Blog

End Wellcome

Selamat Datang di Situs Latihan Finger Kine Klub

Translate

Total Tayangan Halaman